Jumat, 05 Agustus 2011

ta"lim muta'allim.www.mypesantren.com



Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan dan halusnya kebaikan kepada kita. Dan mengutamakan kita atas seluruh makhluk-Nya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan pandai berbicara. Rahmat Allah semoga tetap atas Nabi Muhammad s.a.w. yang diutus dengan sebaik-baik agama, para keluarga dan sahabatnya dengan putaran rambu-rambu iman dan pancaran alam-alam pengetahuan.

Dan sesudah itu, maka setelah saya melihat Kitab "Ta'limul Muta'alim" benar-benar digemari dan diterima di kalangan pengajar dan santri, khususnya para pelajar yang tinggal di lingkungan para Raja dan Sultan. Untuk membuka kesulitan sebagian nadham dan sya'irnya, maka perlu membuka tutupnya, dimana saya mencoba memberikan komentarnya dengan menjelaskan maknanya untuk memenuhi harapan mereka. Hal ini agar mereka mengingatku dalam do'anya sampai hari kiamat. Semoga Allah berkenan menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan, Dialah sebaik-baik harapan dan semulia-mulia yang diminta. Dan tidak ada pertolongan melainkan dari Allah, kepada-Nya aku berserah diri dan kembali.

Pengarang kitab, rahimahullahu Ta'ala memuji kepada Allah dengan ucapan "Alhamdulillah = Segala Puji bagi Allah". Pujian itu adalah sifat mengagungkan dan memuliakan dengan lisan saja. Adapun syukur adalah dengan lisan dan hati serta anggota badan di dalam menerima kenikmatan tertentu. Matra hal ini ada yang umum dan khusus secara ikhtiari. Berbeda dengan menyanjung, tidak ditentukan dengan ikhtiar. Seperti ucapan : "Saya menyanjung Zaid karena kebaikannya."

Memuji kepada Allah Tuhan yang melebihkan anak-anak Adam. Berdasarkan firman Allah Ta'ala pada hak mereka :
Artinya :
"Dan Kamu melebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. 17 Al Isra': 70).

Adam adalah isim Ajam, yang lebih dekat wazannya Ta'ala" seperti "Syaalaha" bukan wazan "Afala". Yang benar adalah musytaq dari "Adamah" dengan fathah bermakna "Al Aswad = hitam" atau dari "Adiimil 'Ardli = Muka Bumi" sebagai bangunan. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi s.a.w. bahwasanya Allah Ta'ala menggenggam seluruh bumf dengan benar-benar menggenggam dengan merasa senang dan susah padanya lalu Adam diciptakan dari padanya. Demikianlah maka berlain-lainanlah warna kulit keturunan Adam. Atau dari "Al Adam" dan "Al Adamah", seperti musytaqnya "Idris" dari "Ad Darsi" dan "Ya'qub" dari "Al 'Aqbu" dan "Iblis" dari "Al Ablaas".

Allah telah melebihkan (mengangkat) derajat umat manusia dengan ilmu dan amal, sehingga melebihi seturuh alam. Baik dari para malaikat maupun dua golongan besar yaitu jin dan manusia. Para Mutakallimin berpendapat, bahwa alam adalah nama setiap yang terjadi yang dilihat oleh Pencipta, baik ia berilmu atau tidak seperti disebutkan : alam malaikat, alam manusia dan jin, demikian juga alam penjuru, flora dan fauna. Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih berkata : "Sesungguhnya Allah Ta'ala mempunyai seribu alam, dan dunia salah satu alam dari padanya."

Shalawat semoga atas Nabi Muhammad pemimpin bangsa Arab dan Ajam beserta para keluarga dan sahabatnya, sebagai sumber segala ilmu pengetahuan dan hikmah.

Shalawat dari Allah adalah rahmat dan ampunan, dari manusia adalah mendo'akannya, dan dari para malaikat adalah memohonkan ampun. Jika dikatakan bahwa Allah Ta'ala bershalawat atas Fulan, maka maksudnya bahwa Allah Ta'ala menyayanginya dan mengampuninya. Jika dikatakan Fulan bershalawat atas Fulan maka maksudnya dia mendo'akannya. Dan jika dikatakan bahwa para malaikat bershalawat atas Fulan, maka yang dimaksud adalah mereka memohonkan ampun kepadanya.

Atas Nabi Muhammad, maknanya yang terpuji di dunia karena para manusia mengambil manfa'at ilmu dan hikmah dari padanya, dan terpuji di akhirat dengan syafa'atnya dari sisi Tuhannya. Demikian dalam syarah Muqaddimah. Sedangkan dalam "As Shihah" terpuji itu lebih sangat dari pada memuji. Adapun Muhammad adalah orang yang banyak perkara terpuji padanya. Ini sebagai isyarat dari padanya tentang banyaknya perbuatan seperti mengelilingi dan mengitari. Siti Aminah ibunda Nabi s.a.w. menamakannya dengan nama Muhammad ketika ia melahirkannya dengan isyarat Tuhan. Nabi s.a.w. bersabda : "Namaku Muhammad, keluargaku yang menamakan aku dengan nama itu.": Tsauban budak Rasulullah s.a.w. meriwayatkan : "Bahwa ketika Aminah mengandung Nabi memohon perlindungan Allah dari kejahatan pendengki, kemudian ia menamakannya Muhammad. Maka ketika melahirkan ia menamakannya Muhammad."

Muhammad sebagai pemimpin bangsa Arab dan Ajam. Arab merupakan isim jinis sedangkan Ajam adalah bangsa selain Arab. Dasar bahwa beliau pemimpin bangsa Arab dan Ajam sebagaimana sabdanya : "Saya sebagai pemimpin para manusia dan tidak ada kebanggaan padaku."

Para keluarga Nabi Muhammad adalah keluarga ahli rumah dari segi nasab, anak keturunan Ali, Abbas, Ja'far, Uqail, Harits bin Abdul Muthalib. Dan dari segi sebab agama, yaitu setiap orang mukmin yang bertakwa. Mereka keluarga dari segi agama karena sebagai keluarga para nabi dan pengikut mereka. Allah Ta'ala menyatakan bahwa Kan'an putra Nabi Nuh a.s. bukan termasuk keluargamu ketika ia memanggil-manggilnya dan berkata bahwa dia anakku. Demikian karena ia diciptakan dari air Nuh, namun dia tidak mengikutinya.

Dan para sahabatnya adalah orang yang menemani Nabi s.a.w. dan memuliakan dengan kemuliaan melihat kebagusannya, mereka beriman kepada Nabi dan beragama Islam sampai mati. Mereka sebagai sumber mata air berbagai ilmu pengetahuan dan hikmah.

Setelah saya mengamati banyaknya penuntut ilmu di masa saya, mereka bersungguh-sungguh dalam belajar menekuni ilmu. Tetapi mereka mengalami kegagalan tidak sukses. Atau mereka sukses, tetapi sama sekali tidak dapat memetik kemanfa'atan buah hasil ilmunya, untuk mengamalkan, mengajarkan dan menyebarkannya. Yaitu menyebarkan permasalahan-permasalahan dengan mengajarkan. Mereka sebenarnya tekun belajar, namun terhalang dari kemanfa'atan ilmu dan buahnya. Sebab mereka pada umumnya salah jalan, yakni metode belajarnya. Mereka meninggalkan berbagai macam syarat yang harus dipenuhi sebagaimana disebutkan dalam kitab ini yang harus dilaksanakan dalam belajar. Padahal siapa yang salah jalan pasti tersesat dan gagal tujuannya sedikit atau banyak, kecil maupun besar.

Oleh karenanya dengan motivasi itu saya merasa terpanggil untuk mencoba memberikan bimbingan dan pedoman para pelajar penuntut ilmu sebagai (Metode Belajar Efektif Jadi Ulama) dengan mengacu berbagai Kitab referensi dan hasil Pengajian (Perkuliahan) dan yang saya terima dari para guru saya, para Ulama, Pakar ilmu dan hikmah. Dalam hal ini saya mengharapkan do'a para pencinta ilmu yang murni hatinya dari sifat-sifat tercela. Semoga mereka dapat sukses sesuai harapan saya dan selamat pada hari pembalasan. Hal ini saya kemukakan setelah saya ber-istkharah kepada Allah SWT. dalam penyusunan kitab ini, yang kemudia diberi judul "TA'LIMUL MUTA'ALLIM TARIQAT TA'ALLUM (Mengajarkan Metode Belajar pada Pelajar)", agar para penuntut ilmu dapat sukses dan merasakan buahnya.

Penulisan kitab ini saya jadikan 13 pasal dengan sistimatika sebagai berikut :
Pasal I      Hakikat Ilmu, Fiqih dan Keutamaannya.
Pasal II     Niat Untuk Belajar.
Pasal III    Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Ketabahan.
Pasal IV    Mengagungkan Ilmu dan Ulama.
Pasal V     Tekun, Kontinuitas dan Minat
Pasal VI    Permulaan, Ukuran dan Tata Tertib Belajar, yaitu tertib bacaan nya mana yang harus didahulukan dan mana yang kemudian.
Pasal VII     Tawakkal.
Pasal VIII    Waktu Mendapatkan Hasil Ilmu.
Pasal IX      Kasih Sayang dan Nasehat.
Pasal X       Mencari Faidah.
Pasal XI      Sifat Waro' di Waktu Belajar.
Pasal XII     Penyebab Hapal dan Lupa.
Pasal XIII   Mendapatkan dan Menolak Rizki, serta Memperpanjang dan Memperpendek Umur.

Kemudian untuk menjelaskan dan menerangkan pasal demi pasal di atas, saya senantiasa memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta'ala, sebab tidak ada pertolongan melainkan dari Allah semata, kepada-Nya saya berserah diri dan kepada-Nyalah aku kembali.



Pengarang
Syekh Az-Zarnuji


Syarah
Syekh Ibrahim Bin Ismail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar