Jumat, 05 Agustus 2011

Pasal II
 Niat Untuk Belajar (Bag. 2)

Dunia merupakan perkara yang amat sedikit dan paling hina, dapat menjadikan orang menjadi buta terkena sihirnya, sehingga hati orang-orang yang mencintainya menjadi seperti terkena sihir karena merasakan kelezatannya dan menjadikan mereka berpaling untuk memperhatikan dan menerima kebenaran. Mereka menjadi buta tidak dapat melihat kebenaran dan tuli sehingga merasa bingung karena tidak mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Mereka benar-benar seperti buta dan tuli hakiki, maka bagaimana ia dapat pergi dan kembali sedangkan ia tidak tahu kemana ia akan pergi dan kemana ia datang kembali, maka ia menjadi bingung.

Sebaiknya ahli ilmu itu jangan sekali-kali mempunyai perasaan tamak yang tidak semestinya. Kecuali tamak untuk menghasilkan ilmu, maka tamak seperti ini dibolehkan, tidak bahaya bahkan merupakan sasaran kemuliaan. Dan hendaklah menjaga diri dari perkara yang dapat menjadikan hinanya ilmu dan ahlinya dan merendahkan diri, sebab memelihara perbuatan seperti ini merupakan keharusan agar ia tidak tertimpa kehinaan ilmu dan ahlinya. Ahli ilmu hendaknya bersifat tawadlu', karena tawadlu' itu merupakan sifat antara sombong, rendah diri dan iffah. Sedangkan kesombongan termasuk sifat-sifat yang diharamkan, sebab sifat itu merupakan sifat yang khusus bagi Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya dalam Hadits Qudsi :


Artinya :

"Ke-Agungan itu pakaian-Ku dan Kebesaran itu selendang-Ku."

Maksudnya dua sifat yang khusus ada pada Dzat-Ku, yang tidak layak bagi selain-Ku. Iffah artinya menjaga dari keharaman. Tawadlu' merupakan sifat antara sombong dan rendah diri. Sebab seorang yang lemah tidak akan sombong untuk mencari yang halal dan tidak merendahkan dirinya untuk mencari yang haram. Karenanya tawadlu' itu merupakan sifat yang tetap bagi penuntut ilmu. Demikian sebagaimana diterangkan dalam kitab "Akhlak."

As Syekh Al Imam Al Ustadz Ruknul Islam yang terkenal sebagai seorang Ahli Pendidikan membaca sya'ir untuk dirinya :
Artinya :

"Sesungguhnya tawadlu' itu termasuk sifat orang yang bertakwa kepada Allah ; dengan takwa ia dapat meraih derajat yang lebih tinggi."
Artinya :

"Suatu yang sangat mengagumkan adalah orang yang bodoh terhadap dirinya sendiri ; apakah ia akan bahagia atau celaka."

Tawadlu' termasuk sifat-sifat orang yang bertakwa kepada Allah Ta'ala, dengan tawadlu' akan mencapai kedudukan yang tinggi, berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. :

Artinya :

"Siapa bertawadlu' maka Allah mengangkatnya dan siapa sombong maka Allah merendahkannya."

Kata "waminal 'ajaibi" menjadi khabar muqaddam, "ujbun" menjadi mubtada' muakhkhar dan mashdar yang mudlaf pada fa'ilnya yaitu "man huwa jahilu." "Man" maushul dan jumlah sesudahnya adalah shilah. "Fi haalihi" ta'alluq dengan kata "Jahil." 'Ahwa" hamzahnya zaidah kedudukannya sebagai mubtada'. "Assa'iidu" khabamya, 'Amissyaqy" athaf pada "Assa'iid." Maksudnya, termasuk mengagumkan adalah seseorang yang bodoh terhadap dirinya, dia tidak mengerti apakah termasuk seorang yang bahagia dari orang-orang yang bahagia atau celaka dari orang-orang yang celaka. Dengan demikian ia terpedaya dan mengagumi keadaan dirinya, maka yang tepat hendaknya dia berfikir pada keadaan dirinya dan merasa takut dari su-ul khatimah (mengakhiri hayatnya dengan jelek) lalu dalam keadaan takut dan penuh harapan kepada Allah.


Artinya :

"Dia tidak tahu bagaimana mengakhiri umurnya pada hari kematiannya (dengan membawa iman atau kufur) ; lalu dia terperosok serendah-rendahnya atau naik ke tempat tertinggi."

Maksudnya ia tidak tahu dalam mengakhiri umurnya apakah mati membawa iman atau kufur. "Yauman Nawa" artinya hari kehancuran yaitu hari kematian, dimana ruhnya turun di tempat yang serendah-rendahnya atau naik di tempat tertinggi. Jadi dia tak tahu dalam mengakhiri umurnya menghembuskan nyawanya apakah mati membawa iman lalu naik ke tingkat tertinggi, yaitu kedudukan orang-orang mukmin, atau sebaliknya (kita mohon perlindungan Allah Ta'ala) lalu terperosok ke tempat yang paling rendah.



Artinya :

"Adapun kebesaran itu merupakan sifat yang khusus bagi Allah maka hendaknya kamu menjauhi dan memelihara diri dari kesombongan."

Imam Abu Hanifah pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya : "Besarkanlah surbanmu dan longgarilah lengan bajumu." Beliau berkata demikian agar tidak menurunkan martabat ilmu dan ahlinya menjadi remeh dan hina.

Penuntut ilmu sebaiknya menguasai kitab wasiat yang ditulis Imam Abu Hanifah yang diberikan kepada Syekh Yusuf bin Khalid As Simti (dibangsakan pada Samat, beliau seorang ulama Ahli Hadits) ketika beliau pulang ke rumahnya dan keluarganya. Siapa saja berpedoman kitab itu sebagai acuan belajar, niscaya akan sukses.

Guru kami As Syekh Al Imam Ali bin Abu Bakar menyuruhku untuk menulis wasiat tersebut sewaktu kami pulang ke kampung halaman kami. Maka setidaknya bagi Pendidik dan Mufti di saat bergaul dengan masyarakat hendaknya memiliki kitab wasiat karya Imam Abu Hanifah itu.

Bersambung Ke Pasal III.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar