Jumat, 05 Agustus 2011

Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 2)//www.mypesantren.com

Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 2)   Dengan bertakwa maka seseorang berhak memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi. Kebahagiaan abadi merupakan sifat kemuliaan. Ilmu menjadi perantara untuk bertakwa, karena ketakwaan itu dapat terealisir hanyalah dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat memelihara diri dari larangan Allah Ta'ala, maka mungkinkah tanpa pengetahuan ia dapat memelihara diri daripadanya ?     Dan jika takwa itu dapat berhasil dari menjauhi larangan Allah Ta'ala, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di negeri yang abadi mencapai tingkatan tertinggi dan puncak kenikmatan di Syurga berjumpa Allah, Tuhan Pemberi segala kenikmatan lagi Merajai. Semoga Allah memudahkannya lantaran memuliakan Nabi-Nye yang diutus di akhir zaman.     Artinya: "Belajarlah, karena ilmu itu sebagai hiasan bagi ahlinya, merupakan kelebihan dan tanda dari segala perbuatan terpuji."   Kata "Belajarlah" maksudnya perintah untuk belajar. Kata "Hiasan bagi ahlinya" maksudnya merupakan hiasan bagi orang yang berilmu. Dalam, interpretasi, bahwa perkara yang paling utama setelah tauhid hendaknya seseorang mempelajari Ilmu Fiqih. Karena Allah Ta'ala memperlihatkan para malaikat dengan melebihkan Adam as. dengan Ilmu Fiqih. Maka Allah berfirman : "Dan Dia mengajarkan Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat." Allah mengajarkan Bahasa Arab termasuk ilmu terpenting dari berbagai ilmu, karena segala persoalan pokok dan cabang-cabangnya membutuhkannya. Hal ini telah ma'tsur dari Umar dan Ali r.a. Diceritakan, bahwasanya seorang Arab mendengar seorang lelaki membaca firman Allah Ta'ala :     Artinya : "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. " (QS. 9 At Taubah : 3).     Rasuluh dibaca kasrah "Wa Rasuulih" sehingga memberi pengertian bahwa "Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan Rasul-Nya", maka ia berkata : Jika Allah berlepas diri dari Rasul-Nya, maka saya juga berlepas diri daripadanya. Lalu lelaki itu pergi kepada Umar r.a. dan orang Arab Badui itu menceritakan bacaannya. Maka dihadapan Umar r.a. memerintahkannya untuk mempelajari bahasa Arab, dan Ali r.a. mengatakan : "Fa'il itu Rafa', Maf’ul itu Nashab, dan Mudhaf Ilaih itu dibaca Jer    "   Adapun belajar menulis dan mempelajari tulisan halus dan indah adalah lah diperbolehkan. Sebab Allah Ta'ala membidangkan hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya:     Artinya : "Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. " (QS. 68 Al Qalam : 1). Dan firman Allah Ta'ala:        Artinya : "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca).” (QS. 96 Al Alaq : 4).   Menulis halus dan indah itu dimakruhkan mempelajarinya bagi kaum wanita, berdasarkan sabda Nabi s.a.w. :     Artinya :    “janganlah kamu  mengajarkan tulisan halus kepada para wanita."   Sementara Ulama berkata : "Ketahuilah, bahwa tulisan halus dan indah itu adalah gaya kesopanan dan sebagian daripada ilmu." Sebagian para Ahli Tafsir berkata tentang firman Allah Ta'ala.  Yang dimaksud adalah tulisan halus dan indah. Fudhail bin Suhail berkata : "Termasuk kebahagiaan seseorang jika ia memiliki tulisan indah dan terampil bicara”. Penya'ir mengatakan:    Artinya :      Pelajarilah pedoman menulis halus dam indah wahai orang yang berpendidikan ; karena tulisan indah itu merupakan hiasan bagi pendidik.     Jika  engkau punya harta, maka  tulisan indahmu merupakan hiasan; dan  jika engkau membutuhkan uang maka itu sebaik-baik penghasilan.  Artinya : ”Jadilah kamu seorang yang memperoleh faidah menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah kamu dalam lautan faidah."   Kata "Mustafidan" sebagai khabar "Kun", dan "Kulla Yaumin" menjadi dlaraf sedangkan "Ziyadatan" menjadi maf'ul bihi dari kata "Mustafidan." Sedangkan kata "Wasbah" adalah fi'il amar yang athaf pada "Kun" yaitu perintah berenang, yakni berangkat di permukaan air. Adapun "Fi Buhuril Fawa-idi = dalam lautan faidah" maksudnya dalam mencari faidah seperti mencari mutiara di lautan. Artinya hendaknya kamu selalu mencari tambahnya faidah ilmu pengetahuan setiap hari dan berenanglah seperti ikan berenang di laut merah dalam mencari faidah. Sebab Nabi yang paling utama yaitu Muhammad s.a.w. dalam do'anya beliau membaca : "Ya Tuhanku, tarnbahkanlah ilmu padaku." Hal ini karena Allah Ta'ala memerintahkannya dalam firman-Nya:   Artinya : "Dan katakanlah : "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. 20 Thalia : 114).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar