Ada lima hadits yang
membicarakan mengenai masalah
ini. Tiga hadits adalah hadits
yang shahih. Sedangkan dua
hadits lainnya adalah dho’if
(lemah). Hadits Pertama Hadits pertama ini menceritakan
bahwa istri Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yaitu ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha mengingkari
kalau ada yang mengatakan
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi pernah kencing sambil berdiri. ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-
mengatakan, ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َّﻥَﺃ ْﻢُﻜَﺛَّﺪَﺣ ْﻦَﻣ ُﻩْﻮُﻗِّﺪَﺼُﺗ َﻼَﻓ ﺎًﻤِﺋﺎَﻗ ُﻝْﻮُﺒَﻳ َﻥﺎَﻛ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺍًﺪِﻋﺎَﻗ َّﻻِﺇ ُﻝْﻮُﺒَﻳ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ “Barangsiapa yang mengatakan
pada kalian bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah kencing sambil berdiri,
maka janganlah kalian
membenarkannya. (Yang benar) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
biasa kencing sambil duduk.” (HR.
At Tirmidzi dan An Nasa’i. Syaikh
Al Albani mengatakan dalam As
Silsilah Ash Shahihah no. 201
bahwa hadits ini shahih). Abu Isa At Tirmidzi mengatakan, “Hadits
ini adalah hadits yang lebih bagus
dan lebih shahih dari hadits
lainnya tatkala membicarakan
masalah ini.” Hadits Kedua Hadits ini menceritakan bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah kencing sambil berdiri.
Bukhari membawakan hadits ini
dalam kitab shahihnya pada Bab
“Kencing dalam Keadaan Berdiri dan Duduk.” Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu-
mengatakan, ُّﻰِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَﺗَﺃ ) ، ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ، ( ٍﻡْﻮَﻗ َﺔَﻃﺎَﺒُﺳ ، َﻝﺎَﺒَﻓ ﺎًﻤِﺋﺎَﻗ ، ٍﺀﺎَﻤِﺑ ﺎَﻋَﺪَﻓ ، ٍﺀﺎَﻤِﺑ ُﻪُﺘْﺌِﺠَﻓ ، َﺄَّﺿَﻮَﺘَﻓ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah mendatangi
tempat pembuangan sampah milik
suatu kaum. Lalu beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
kencing sambil berdiri. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam meminta diambilkan air.
Aku pun mengambilkan beliau air,
lalu beliau berwudhu
dengannya.” (HR. Bukhari no. 224
dan Muslim no. 273). Hadits ini tentu saja adalah
hadits yang shahih karena
disepakati oleh Bukhari dan
Muslim. Ibnu Baththol tatkala
menjelaskan hadits ini
mengatakan, “Hadits ini merupakan dalil bolehnya kencing
sambil berdiri.”[1] Hadits Ketiga Hadits berikut menunjukkan
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah kencing sambil
duduk. ‘Abdurrahman bin Hasanah
mengatakan, ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ َﺝَﺮَﺧ ِﺔَﻗَﺭَّﺪﻟﺍ ِﺔَﺌْﻴَﻬَﻛ ِﻩِﺪَﻳ ﻲِﻓ َﻮُﻫَﻭ ﻢﻠﺳﻭ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻬَﻌَﺿَﻮَﻓ ، َﻝﺎَﺒَﻓ َﺲَﻠَﺟ َّﻢُﺛ ﺎَﻬْﻴَﻟِﺇ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah keluar bersama
kami dan di tangannya terdapat
sesuatu yang berbentuk perisai,
lalu beliau meletakkannya
kemudian beliau duduk lalu kencing menghadapnya.” (HR.
Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah,
dan Ahmad. Syaikh Al Albani
dalam Misykatul Mashobih
mengatakan bahwa hadits ini
shahih) Hadits Keempat Hadits berikut ini membicarakan
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah melarang Umar
kencing sambil berdiri, namun
hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah) . ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu-
berkata, ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ ﻰِﻧﺁَﺭ - ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ - َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎًﻤِﺋﺎَﻗ ُﻝﻮُﺑَﺃ »: ُﺮَﻤُﻋ ﺎَﻳ ﺎًﻤِﺋﺎَﻗ ْﻞُﺒَﺗ َﻻ .« ﺎًﻤِﺋﺎَﻗ ُﺖْﻠُﺑ ﺎَﻤَﻓ َﻝﺎَﻗ ُﺪْﻌَﺑ . “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam melihatku kencing sambil
berdiri, kemudian beliau
mengatakan, “Wahai ‘Umar
janganlah engkau kencing sambil
berdiri.” Umar pun setelah itu tidak pernah kencing lagi sambil
berdiri.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu
Majah) Syaikh Al Huwainiy –ulama hadits
saat ini- mengatakan, “Ibnul
Mundzir berkata bahwa hadits ini
tidak shahih. Adapun Asy
Syaukani sebagaimana dalam As
Sail Al Jaror mengatakan bahwa As Suyuthi telah menshohihkan
hadits ini!! Boleh jadi As Suyuthi
melihat pada riwayat Ibnu Hibban.
Lalu beliau tidak menoleh sama
sekali pada tadlis yang biasa
dilakukan oleh Ibnu Juraij. Sebagaimana kita ketahui pula
bahwa As Suyuthi bergampang-
gampangan dalam menshohihkan
hadits. Kemudian hadits ini dalam
riwayat Ibnu Hibban dikatakan
dari Ibnu ‘Umar. Namun sudah diketahui bahwa hadits ini
berasal dari ‘Umar (ayah Ibnu
‘Umar). Saya tidak mengetahui
apakah di sini ada perbedaan
sanad ataukah hal ini tidak
disebutkan dalam riwayat Ibnu Hibban?!”[2] Syaikh Al Albani –rahimahullah-
mengatakan, “Hadits ini dho’if
(lemah). Yang tepat, tidaklah
mengapa seseorang kencing
sambil berdiri asalkan aman dari
percikan kencing. Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath mengatakan,
“Tidak terdapat dalil yang
shahih yang menunjukkan
larangan kencing sambil berdiri.”
Dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari
‘Umar, beliau berkata, “Aku tidak pernah kencing sambil
berdiri sejak aku masuk Islam”.
Sanad hadits ini shahih. Namun
dari jalur lain, dari Zaid, beliau
berkata, “Aku pernah melihat
‘Umar kencing sambil berdiri”. Sanad hadits ini juga shahih. Oleh
karena itu, hal inilah yang
dilakukan oleh ‘Umar dan ini
menunjukkan telah jelas bagi
‘Umar bahwa tidak mengapa
kencing sambil berdiri”.” [3] Hadits Kelima Hadits berikut menunjukkan
bahwa kencing sambil berdiri
adalah termasuk perangai yang
buruk, namun hadits ini juga
adalah hadits yang dho’if
(lemah). Dari Buraidah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﺒَﻳ ْﻥﺃ ِﺀﺎﻔَﺠﻟﺍ َﻦِﻣ ٌﺙﻼﺛ ْﻥﺃ َﻞْﺒَﻗ ُﻪَﺘَﻬْﺒَﺟ َﺢَﺴْﻤَﻳ ْﻭﺃ ًﺎﻤِﺋﺎﻗ ﻲﻓ َﺦُﻔْﻨَﻳ ْﻭﺃ ِﻪِﺗﻼَﺻ ْﻦِﻣ َﻍَﺮْﻔَﻳ ِﻩِﺩﻮُﺠُﺳ “Tiga perkara yang
menunjukkan perangai yang
buruk: [1] kencing sambil berdiri,
[2] mengusap dahi (dari debu)
sebelum selesai shalat, atau [3]
meniup (debu) di (tempat) sujud.” (Diriwayatkan oleh
Bukhari dalam At Tarikh dan juga
oleh Al Bazzar) Syaikh Al Huwaini –hafizhahullah-
mengatakan, “Yang benar,
hadits ini adalah mauquf (cuma
perkataan sahabat) dan bukan
marfu’ (perkataan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Di tempat sebelumnya, Syaikh Al
Huwaini mengatakan bahwa
hadits ini ghoiru mahfuzh artinya
periwayatnya tsiqoh
(terpercaya) namun menyelisihi
periwayat tsiqoh yang banyak atau yang lebih tsiqoh.[4] Jika demikian, hadits ini adalah hadits
yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani –rahimahullah-
mengatakan bahwa hadits ini
adalahhadits dho’if (lemah) . [5] Terdapat perkataan yang shahih
sebagaimana hadits Buraidah di
atas, namun bukan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tetapiperkataan Ibnu Mas’ud . Ibnu Mas’ud –radhiyallahu
‘anhu- mengatakan, َﺖْﻧَﺃَﻭ َﻝْﻮُﺒَﺗ ْﻥَﺃ ِﺀﺎَﻔَﺠﻟﺍ َﻦِﻣ َّﻥِﺇ ٌﻢِﺋﺎَﻗ “Di antara perangai yang buruk
adalah seseorang kencing sambil
berdiri.” (HR. Tirmidzi). Syaikh Al
Huwaini mengatakan bahwa
periwayat hadits ini adalah
periwayat yang tsiqoh (terpercaya). Syaikh Al Albani –
rahimahullah- mengatakan dalam
Shahih wa Dha’if Sunan At
Tirmidzi bahwa hadits inishahih. Inilah pendapat Ibnu Mas’ud
mengenai kencing sambil berdiri. Menilik Perselisihan Para
Ulama Dari hadits-hadits di atas, para
ulama akhirnya berselisih
pendapat mengenai hukum
kencing sambil berdiri menjadi
tiga pendapat. Pendapat pertama: dimakruhkan tanpa ada udzur.
Inilah pendapat yang dipilih oleh
‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, ‘Umar
dalam salah satu riwayat
(pendapat beliau terdahulu), Abu
Musa, Asy Sya’bi, Ibnu ‘Uyainah, Hanafiyah dan Syafi’iyah. Pendapat kedua: diperbolehkan secara mutlak.
Inilah pendapat yang dipilih oleh
‘Umar dalam riwayat yang lain
(pendapat beliau terakhir), Zaid
bin Tsabit, Ibnu ‘Umar, Sahl bin
Sa’ad, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifah, dan pendapat
Hanabilah. Pendapat ketiga: diperbolehkan jika aman dari
percikan, sedangkan jika tidak
aman dari percikan, maka hal ini
menjadi terlarang. Inilah madzhab
Imam Malik dan inilah pendapat
yang dipilih oleh Ibnul Mundzir.[6] Pendapat Terkuat Pendapat terkuat dari pendapat
yang ada adalah kencing sambil
berdiri tidaklah terlarang selama
aman dari percikan kencing. Hal
ini berdasarkan beberapa alasan: 1. Tidak ada hadits yang
menyebutkan bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang kencing sambil
berdiri selain dari hadits
yang dho’if (lemah). 2. Hadits yang menyebutkan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam kencing sambil duduk
tidaklah bertentangan
dengan hadits yang
menyebutkan beliau kencing sambil berdiri,
bahkan kedua-duanya
diperbolehkan. 3. Terdapat hadits yang
shahih dari Hudzaifah
bahkan hadits ini disepakati
oleh Bukhari dan Muslim
bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. 4. Sedangkan perkataan
‘Aisyah yang mengingkari
berita kalau Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam itu
kencing sambil berdiri
hanyalah sepengetahuan ‘Aisyah saja ketika beliau
berada di rumahnya. Belum
tentu di luar rumah, beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak kencing sambil berdiri.
Padahal jika seseorang tidak tahu belum tentu hal
tersebut tidak ada.
Mengenai masalah ini,
Hudzaifah memiliki ilmu
bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Jadi,
ilmu Hudzaifah ini adalah
sanggahan untuk ‘Aisyah
yang tidak mengetahui hal
ini. Itulah sedikit ulasan mengenai
kencing sambil berdiri. Semoga
pembahasan ini bisa menjawab
masalah dari beberapa pembaca
yang belum menemukan titik
terang mengenai permasalahan ini. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi
tatimmush sholihaat. Allahumman
fa’ana bimaa ‘allamtana, wa
‘alimna maa yanfa’una wa
zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala
nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Disusun berkat karunia Allah di
malam hari, 10 Jumadil Ula 1430 H
di rumah mertua tercinta Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id
Apa saja
Rabu, 10 Agustus 2011
puasa tapi tdk shalat
Syaikh Muhammad bin Sholih Al
‘Utsaimin -rahimahullah- pernah
ditanya: “Apa hukum orang yang
berpuasa namun meninggalkan
shalat?” Beliau rahimahullah menjawab: “Puasa yang dilakukan oleh
orang yang meninggalkan shalat
tidaklah diterima karena orang
yang meninggalkan shalat adalah
kafir dan murtad. Dalil bahwa
meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman
Allah Ta’ala, َﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ ﺍﻮُﻣﺎَﻗَﺃَﻭ ﺍﻮُﺑﺎَﺗ ْﻥِﺈَﻓ ﻲِﻓ ْﻢُﻜُﻧﺍَﻮْﺧِﺈَﻓ َﺓﺎَﻛَّﺰﻟﺍ ﺍُﻮَﺗَﺁَﻭ ٍﻡْﻮَﻘِﻟ ِﺕﺎَﻳَﺂْﻟﺍ ُﻞِّﺼَﻔُﻧَﻭ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Jika mereka bertaubat,
mendirikan sholat dan
menunaikan zakat, maka
(mereka itu) adalah saudara-
saudaramu seagama. Dan Kami
menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At
Taubah [9]: 11) Alasan lain adalah sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ِﺮْﻔُﻜْﻟﺍَﻭ ِﻙْﺮِّﺸﻟﺍ َﻦْﻴَﺑَﻭ ِﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﻦْﻴَﺑ ِﺓَﻼَّﺼﻟﺍ ُﻙْﺮَﺗ “Pembatas antara seorang
muslim dengan kesyirikan dan
kekafiran adalah meninggalkan
shalat.” (HR. Muslim no. 82) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda, ُﺓَﻼَّﺼﻟﺍ ُﻢُﻬَﻨْﻴَﺑَﻭ ﺎَﻨَﻨْﻴَﺑ ﻯِﺬَّﻟﺍ ُﺪْﻬَﻌْﻟﺍ َﺮَﻔَﻛ ْﺪَﻘَﻓ ﺎَﻬَﻛَﺮَﺗ ْﻦَﻤَﻓ “Perjanjian antara kami dan
mereka (orang kafir) adalah
mengenai shalat. Barangsiapa
meninggalkannya maka dia telah
kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi,
An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani) Pendapat yang mengatakan
bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran
adalah pendapat mayoritas
sahabat Nabi bahkan dapat
dikatakan pendapat tersebut
adalah ijma’ (kesepakatan) para
sahabat. ‘Abdullah bin Syaqiq –
rahimahullah- (seorang tabi’in
yang sudah masyhur)
mengatakan, “Para sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila
seseorang meninggalkannya akan
menyebabkan dia kafir selain
perkara shalat.” [Perkataan ini
diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari
'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim
mengatakan bahwa hadits ini
bersambung dengan menyebut
Abu Hurairah di dalamnya. Dan
sanad (periwayat) hadits ini
adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal
Kitab, hal. 52, -pen] Oleh karena itu, apabila
seseorang berpuasa namun dia
meninggalkan shalat, puasa yang
dia lakukan tidaklah sah (tidak
diterima). Amalan puasa yang dia
lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti. Oleh sebab itu, kami katakan,
“Shalatlah kemudian tunaikanlah
puasa.” Adapun jika engkau
puasa namun tidak shalat,
amalan puasamu akan tertolak
karena orang kafir (karena sebab meninggalkan shalat) tidak
diterima ibadah dari dirinya. [Sumber: Majmu' Fatawa wa
Rosa-il Ibnu 'Utsaimin, 17/62, Asy
Syamilah] *** Penerjemah: Muhammad Abduh
Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
‘Utsaimin -rahimahullah- pernah
ditanya: “Apa hukum orang yang
berpuasa namun meninggalkan
shalat?” Beliau rahimahullah menjawab: “Puasa yang dilakukan oleh
orang yang meninggalkan shalat
tidaklah diterima karena orang
yang meninggalkan shalat adalah
kafir dan murtad. Dalil bahwa
meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman
Allah Ta’ala, َﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ ﺍﻮُﻣﺎَﻗَﺃَﻭ ﺍﻮُﺑﺎَﺗ ْﻥِﺈَﻓ ﻲِﻓ ْﻢُﻜُﻧﺍَﻮْﺧِﺈَﻓ َﺓﺎَﻛَّﺰﻟﺍ ﺍُﻮَﺗَﺁَﻭ ٍﻡْﻮَﻘِﻟ ِﺕﺎَﻳَﺂْﻟﺍ ُﻞِّﺼَﻔُﻧَﻭ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Jika mereka bertaubat,
mendirikan sholat dan
menunaikan zakat, maka
(mereka itu) adalah saudara-
saudaramu seagama. Dan Kami
menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At
Taubah [9]: 11) Alasan lain adalah sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ِﺮْﻔُﻜْﻟﺍَﻭ ِﻙْﺮِّﺸﻟﺍ َﻦْﻴَﺑَﻭ ِﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﻦْﻴَﺑ ِﺓَﻼَّﺼﻟﺍ ُﻙْﺮَﺗ “Pembatas antara seorang
muslim dengan kesyirikan dan
kekafiran adalah meninggalkan
shalat.” (HR. Muslim no. 82) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda, ُﺓَﻼَّﺼﻟﺍ ُﻢُﻬَﻨْﻴَﺑَﻭ ﺎَﻨَﻨْﻴَﺑ ﻯِﺬَّﻟﺍ ُﺪْﻬَﻌْﻟﺍ َﺮَﻔَﻛ ْﺪَﻘَﻓ ﺎَﻬَﻛَﺮَﺗ ْﻦَﻤَﻓ “Perjanjian antara kami dan
mereka (orang kafir) adalah
mengenai shalat. Barangsiapa
meninggalkannya maka dia telah
kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi,
An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani) Pendapat yang mengatakan
bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran
adalah pendapat mayoritas
sahabat Nabi bahkan dapat
dikatakan pendapat tersebut
adalah ijma’ (kesepakatan) para
sahabat. ‘Abdullah bin Syaqiq –
rahimahullah- (seorang tabi’in
yang sudah masyhur)
mengatakan, “Para sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila
seseorang meninggalkannya akan
menyebabkan dia kafir selain
perkara shalat.” [Perkataan ini
diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari
'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim
mengatakan bahwa hadits ini
bersambung dengan menyebut
Abu Hurairah di dalamnya. Dan
sanad (periwayat) hadits ini
adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal
Kitab, hal. 52, -pen] Oleh karena itu, apabila
seseorang berpuasa namun dia
meninggalkan shalat, puasa yang
dia lakukan tidaklah sah (tidak
diterima). Amalan puasa yang dia
lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti. Oleh sebab itu, kami katakan,
“Shalatlah kemudian tunaikanlah
puasa.” Adapun jika engkau
puasa namun tidak shalat,
amalan puasamu akan tertolak
karena orang kafir (karena sebab meninggalkan shalat) tidak
diterima ibadah dari dirinya. [Sumber: Majmu' Fatawa wa
Rosa-il Ibnu 'Utsaimin, 17/62, Asy
Syamilah] *** Penerjemah: Muhammad Abduh
Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Puasa Tetapi TidakBerjilbab
Segala puji bagi Allah, Rabb
semesta alam. Shalawat dan
salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan
sahabatnya. Kita telah mengetahui bersama
mengenakan jilbab adalah suatu
hal yang wajib. Sebagaimana
kewajibannya telah disebutkan
dalam Al Qur’an dan hadits
sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-
tengah kita, masih banyak yang
belum sadar akan jilbab
termasuk pada bulan Ramadhan.
Tulisan ini akan menjelaskan
bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab.
Semoga bermanfaat. Kewajiban Mengenakan
Jilbab Allah Ta’ala berfirman, َﻚِﺗﺎَﻨَﺑَﻭ َﻚِﺟﺍَﻭْﺯَﺄِﻟ ْﻞُﻗ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺎَﻳ ْﻦِﻣ َّﻦِﻬْﻴَﻠَﻋ َﻦﻴِﻧْﺪُﻳ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ِﺀﺎَﺴِﻧَﻭ ﺎَﻠَﻓ َﻦْﻓَﺮْﻌُﻳ ْﻥَﺃ ﻰَﻧْﺩَﺃ َﻚِﻟَﺫ َّﻦِﻬِﺒﻴِﺑﺎَﻠَﺟ ﺍًﺭﻮُﻔَﻏ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻥﺎَﻛَﻭ َﻦْﻳَﺫْﺆُﻳ “Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: “Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al
Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab
adalah kain yang dipakai oleh
wanita setelah memakai khimar.
Sedangkan khimar adalah
penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman, ْﻦِﻣ َﻦْﻀُﻀْﻐَﻳ ِﺕﺎَﻨِﻣْﺆُﻤْﻠِﻟ ْﻞُﻗَﻭ ﺎَﻟَﻭ َّﻦُﻬَﺟﻭُﺮُﻓ َﻦْﻈَﻔْﺤَﻳَﻭ َّﻦِﻫِﺭﺎَﺼْﺑَﺃ ﺎَﻬْﻨِﻣ َﺮَﻬَﻇ ﺎَﻣ ﺎَّﻟِﺇ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳِﺯ َﻦﻳِﺪْﺒُﻳ “Katakanlah kepada wanita
yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31).
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas,
Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah,
dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa
yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.
(Lihat Jilbab Al Mar’ah Al
Muslimah, Amru Abdul Mun’im,
hal. 14). Orang yang tidak menutupi
auratnya artinya tidak
mengenakan jilbab diancam dalam
hadits berikut ini. Dari Abu
Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ﺎَﻤُﻫَﺭَﺃ ْﻢَﻟ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ْﻦِﻣ ِﻥﺎَﻔْﻨِﺻ ِﺮَﻘَﺒْﻟﺍ ِﺏﺎَﻧْﺫَﺄَﻛ ٌﻁﺎَﻴِﺳ ْﻢُﻬَﻌَﻣ ٌﻡْﻮَﻗ ٌﺕﺎَﻴِﺳﺎَﻛ ٌﺀﺎَﺴِﻧَﻭ َﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَﻬِﺑ َﻥﻮُﺑِﺮْﻀَﻳ َّﻦُﻬُﺳﻭُﺀُﺭ ٌﺕَﻼِﺋﺎَﻣ ٌﺕَﻼﻴِﻤُﻣ ٌﺕﺎَﻳِﺭﺎَﻋ َﻦْﻠُﺧْﺪَﻳ َﻻ ِﺔَﻠِﺋﺎَﻤْﻟﺍ ِﺖْﺨُﺒْﻟﺍ ِﺔَﻤِﻨْﺳَﺄَﻛ ﺎَﻬَﺤﻳِﺭ َّﻥِﺇَﻭ ﺎَﻬَﺤﻳِﺭ َﻥْﺪِﺠَﻳ َﻻَﻭ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍَﺬَﻛَﻭ ﺍَﺬَﻛ ِﺓَﺮﻴِﺴَﻣ ْﻦِﻣ ُﺪَﺟﻮُﻴَﻟ “Ada dua golongan dari
penduduk neraka yang belum
pernah aku lihat: [1] Suatu kaum
yang memiliki cambuk seperti
ekor sapi untuk memukul
manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang,
berlenggak-lenggok, kepala
mereka seperti punuk unta yang
miring. Wanita seperti itu tidak
akan masuk surga dan tidak
akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama
perjalanan sekian dan
sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di
antara makna wanita yang
berpakaian tetapi telanjang
dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap
sebagian anggota tubuhnya,
sengaja menampakkan keindahan
tubuhnya. Inilah yang dimaksud
wanita yang berpakaian tetapi
telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga
nampak bagian dalam tubuhnya.
Wanita tersebut berpakaian,
namun sebenarnya telanjang (Al
Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17:
190-191). Dalil-dalil di atas menunjukkan
bahwa wajibnya wanita
mengenakan jilbab dan ancaman
bagi yang membuka-buka
auratnya. Aurat wanita adalah
seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan
dapat disimpulkan bahwa
berpakaian tetapi telanjang alias
tidak mengenakan jilbab
termasuk dosa besar. Karena
dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan
mencium bau surga. Na’udzu
billahi min dzalik. Puasa Harus Meninggalkan
Maksiat Setelah kita tahu bahwa tidak
mengenakan jilbab adalah suatu
dosa atau suatu maksiat, bahkan
mendapat ancaman yang berat,
maka keadaan tidak berjilbab
tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang
yang berpuasa. Kita tahu
bersama bahwa maksiat akan
mengurangi pahala orang yang
berpuasa, walaupun status
puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan
haus saja, pahala tidak diperoleh
atau berkurang karena maksiat.
Bahkan Allah sendiri tidak peduli
akan lapar dan haus yang ia
tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut: Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ِﻪِﺑ َﻞَﻤَﻌْﻟﺍَﻭ ِﺭﻭُّﺰﻟﺍ َﻝْﻮَﻗ ْﻉَﺪَﻳ ْﻢَﻟ ْﻦَﻣ ُﻪَﻣﺎَﻌَﻃ َﻉَﺪَﻳ ْﻥَﺃ ﻰِﻓ ٌﺔَﺟﺎَﺣ ِﻪَّﻠِﻟ َﺲْﻴَﻠَﻓ ُﻪَﺑﺍَﺮَﺷَﻭ “Barangsiapa yang tidak
meninggalkan perkataan dusta
malah mengamalkannya, maka
Allah tidak butuh dari rasa lapar
dan haus yang dia tahan.” (HR.
Bukhari no. 1903). Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ِﻞْﻛَﻷﺍ َﻦِﻣ ُﻡﺎَﻴِّﺼﻟﺍ َﺲْﻴَﻟ ِﺏَﺮَّﺸﻟﺍَﻭ ، َﻦِﻣ ُﻡﺎَﻴِّﺼﻟﺍ ﺎَﻤَّﻧِﺇ ِﺚَﻓَّﺮﻟﺍَﻭ ِﻮْﻐَّﻠﻟﺍ ، ٌﺪَﺣَﺃ َﻚَّﺑﺎَﺳ ْﻥِﺈَﻓ ْﻞُﻘَﺘْﻠَﻓ َﻚْﻴَﻠَﻋ َﻞُﻬَﺟ ْﻭَﺃ : ﻲِّﻧِﺇ ٌﻢِﺋﺎَﺻ ، ٌﻢِﺋﺎَﺻ ﻲِّﻧِﺇ “Puasa bukanlah hanya menahan
makan dan minum saja. Akan
tetapi, puasa adalah dengan
menahan diri dari perkataan sia-
sia dan kata-kata kotor. Apabila
ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu,
katakanlah padanya, “Aku
sedang puasa, aku sedang
puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3:
242. Al A’zhomi mengatakan
bahwa sanad hadits tersebut shahih) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu
‘anhu berkata, “Seandainya
engkau berpuasa maka
hendaknya pendengaran,
penglihatan dan lisanmu turut
berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan
haram serta janganlah engkau
menyakiti tetanggamu. Bersikap
tenang dan berwibawalah di hari
puasamu. Janganlah kamu jadikan
hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama
saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277). Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah
berkata, “Ketika berpuasa
begitu keras larangan untuk
bermaksiat. Orang yang
berpuasa namun melakukan
maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu
bermaksiat, yaitu pahala
pokoknya tidak batal, hanya
kesempurnaan pahala yang tidak
ia peroleh. Orang yang berpuasa
namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa
sekaligus dosa karena maksiat
yang ia lakukan.” (Mirqotul
Mafatih Syarh Misykatul
Mashobih, 6: 308). Al Baydhowi rahimahullah
mengatakan, “Ibadah puasa
bukanlah hanya menahan diri
dari lapar dan dahaga saja.
Bahkan seseorang yang
menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat
dan mengajak jiwa pada
kebaikan. Jika tidak demikian,
sungguh Allah tidak akan melihat
amalannya, dalam artian tidak
akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117). Penjelasan di atas menunjukkan
sia-sianya puasa orang yang
bermaksiat, termasuk dalam hal
ini adalah wanita yang tidak
berjilbab ketika puasa. Oleh
karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan
moment untuk memperbaiki diri.
Bulan Ramadhan ini seharusnya
dimanfaatkan untuk menjadikan
diri menjadi lebih baik. Pelan-
pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah
sebagaimana kata ulama salaf,
“Tanda diterimanya suatu
amalan adalah kebaikan
membuahkan kebaikan.” Belum Mau Berjilbab Beralasan belum siap berjilbab
karena yang penting hatinya
dulu diperbaiki?
Kami jawab, “Hati juga mesti
baik. Lahiriyah pun demikian.
Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan
perbuatan. Hanya pemahaman
keliru dari aliran Murji’ah yang
menganggap iman itu cukup
dengan amalan hati ditambah
perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman
butuh realisasi dalam tindakan
dan amalan” Beralasan belum siap berjilbab
karena mengenakannya begitu
gerah dan panas?
Kami jawab, “Lebih mending
mana, panas di dunia karena
melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena
durhaka?” Coba direnungkan! Beralasan belum siap berjilbab
karena banyak orang yang
berjilbab malah suka
menggunjing?
Kami jawab, “Ingat tidak bisa
kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu.
Itu paling hanya segelintir orang
yang demikian, namun tidak
semua. Sehingga tidak bisa kita
sebut setiap wanita yang
berjilbab suka menggunjing.” Beralasan lagi karena saat ini
belum siap berjilbab?
Kami jawab, “Jika tidak
sekarang, lalu kapan lagi? Apa
tahun depan? Apa dua tahun
lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan?
Inilah was-was dari setan supaya
kita menunda amalan baik. Jika
tidak sekarang ini, mengapa
mesti menunda berhijab besok
dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini
ataukah sudah di alam barzakh,
bahkan kita tidak tahu keadaan
kita sejam atau semenit
mendatang. So … jangan
menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk
berjilbab.” Perkataan Ibnu ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma berikut
seharusnya menjadi renungan, َﺡﺎَﺒَّﺼﻟﺍ ِﺮِﻈَﺘْﻨَﺗ َﻼَﻓ َﺖْﻴَﺴْﻣَﺃ ﺍَﺫِﺇ ، ِﺮِﻈَﺘْﻨَﺗ َﻼَﻓ َﺖْﺤَﺒْﺻَﺃ ﺍَﺫِﺇَﻭ َﺀﺎَﺴَﻤْﻟﺍ ، َﻚِﺘَّﺤِﺻ ْﻦِﻣ ْﺬُﺧَﻭ َﻚِﺿَﺮَﻤِﻟ ، َﻚِﺗْﻮَﻤِﻟ َﻚِﺗﺎَﻴَﺣ ْﻦِﻣَﻭ “Jika engkau berada di waktu
sore, maka janganlah menunggu
pagi. Jika engkau berada di
waktu pagi, janganlah menunggu
waktu sore. Manfaatkanlah masa
sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu
sebelum datang matimu.” (HR.
Bukhari no. 6416). Hadits ini
menunjukkan dorongan untuk
menjadikan kematian seperti
berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan
kita bersiap-siap dengan amalan
sholeh. Juga sikap ini menjadikan
kita sedikit dalam berpanjang
angan-angan. Demikian kata Ibnu
Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. Moga di bulan penuh barokah ini,
kita diberi taufik oleh Allah untuk
semakin taat pada-Nya. Wallahu
waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 4
Ramadhan 1432 H (04/08/2011) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id
semesta alam. Shalawat dan
salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan
sahabatnya. Kita telah mengetahui bersama
mengenakan jilbab adalah suatu
hal yang wajib. Sebagaimana
kewajibannya telah disebutkan
dalam Al Qur’an dan hadits
sebagai pedoman hidup kita. Namun kenyataaan di tengah-
tengah kita, masih banyak yang
belum sadar akan jilbab
termasuk pada bulan Ramadhan.
Tulisan ini akan menjelaskan
bagaimanakah status puasa wanita yang tidak berjilbab.
Semoga bermanfaat. Kewajiban Mengenakan
Jilbab Allah Ta’ala berfirman, َﻚِﺗﺎَﻨَﺑَﻭ َﻚِﺟﺍَﻭْﺯَﺄِﻟ ْﻞُﻗ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺎَﻳ ْﻦِﻣ َّﻦِﻬْﻴَﻠَﻋ َﻦﻴِﻧْﺪُﻳ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ِﺀﺎَﺴِﻧَﻭ ﺎَﻠَﻓ َﻦْﻓَﺮْﻌُﻳ ْﻥَﺃ ﻰَﻧْﺩَﺃ َﻚِﻟَﺫ َّﻦِﻬِﺒﻴِﺑﺎَﻠَﺟ ﺍًﺭﻮُﻔَﻏ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻥﺎَﻛَﻭ َﻦْﻳَﺫْﺆُﻳ “Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: “Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al
Ahzab: 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab
adalah kain yang dipakai oleh
wanita setelah memakai khimar.
Sedangkan khimar adalah
penutup kepala. Allah Ta’ala juga berfirman, ْﻦِﻣ َﻦْﻀُﻀْﻐَﻳ ِﺕﺎَﻨِﻣْﺆُﻤْﻠِﻟ ْﻞُﻗَﻭ ﺎَﻟَﻭ َّﻦُﻬَﺟﻭُﺮُﻓ َﻦْﻈَﻔْﺤَﻳَﻭ َّﻦِﻫِﺭﺎَﺼْﺑَﺃ ﺎَﻬْﻨِﻣ َﺮَﻬَﻇ ﺎَﻣ ﺎَّﻟِﺇ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳِﺯ َﻦﻳِﺪْﺒُﻳ “Katakanlah kepada wanita
yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31).
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas,
Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah,
dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa
yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.
(Lihat Jilbab Al Mar’ah Al
Muslimah, Amru Abdul Mun’im,
hal. 14). Orang yang tidak menutupi
auratnya artinya tidak
mengenakan jilbab diancam dalam
hadits berikut ini. Dari Abu
Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ﺎَﻤُﻫَﺭَﺃ ْﻢَﻟ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ْﻦِﻣ ِﻥﺎَﻔْﻨِﺻ ِﺮَﻘَﺒْﻟﺍ ِﺏﺎَﻧْﺫَﺄَﻛ ٌﻁﺎَﻴِﺳ ْﻢُﻬَﻌَﻣ ٌﻡْﻮَﻗ ٌﺕﺎَﻴِﺳﺎَﻛ ٌﺀﺎَﺴِﻧَﻭ َﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَﻬِﺑ َﻥﻮُﺑِﺮْﻀَﻳ َّﻦُﻬُﺳﻭُﺀُﺭ ٌﺕَﻼِﺋﺎَﻣ ٌﺕَﻼﻴِﻤُﻣ ٌﺕﺎَﻳِﺭﺎَﻋ َﻦْﻠُﺧْﺪَﻳ َﻻ ِﺔَﻠِﺋﺎَﻤْﻟﺍ ِﺖْﺨُﺒْﻟﺍ ِﺔَﻤِﻨْﺳَﺄَﻛ ﺎَﻬَﺤﻳِﺭ َّﻥِﺇَﻭ ﺎَﻬَﺤﻳِﺭ َﻥْﺪِﺠَﻳ َﻻَﻭ َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍَﺬَﻛَﻭ ﺍَﺬَﻛ ِﺓَﺮﻴِﺴَﻣ ْﻦِﻣ ُﺪَﺟﻮُﻴَﻟ “Ada dua golongan dari
penduduk neraka yang belum
pernah aku lihat: [1] Suatu kaum
yang memiliki cambuk seperti
ekor sapi untuk memukul
manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang,
berlenggak-lenggok, kepala
mereka seperti punuk unta yang
miring. Wanita seperti itu tidak
akan masuk surga dan tidak
akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama
perjalanan sekian dan
sekian.” (HR. Muslim no. 2128). Di
antara makna wanita yang
berpakaian tetapi telanjang
dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap
sebagian anggota tubuhnya,
sengaja menampakkan keindahan
tubuhnya. Inilah yang dimaksud
wanita yang berpakaian tetapi
telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga
nampak bagian dalam tubuhnya.
Wanita tersebut berpakaian,
namun sebenarnya telanjang (Al
Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17:
190-191). Dalil-dalil di atas menunjukkan
bahwa wajibnya wanita
mengenakan jilbab dan ancaman
bagi yang membuka-buka
auratnya. Aurat wanita adalah
seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan
dapat disimpulkan bahwa
berpakaian tetapi telanjang alias
tidak mengenakan jilbab
termasuk dosa besar. Karena
dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan
mencium bau surga. Na’udzu
billahi min dzalik. Puasa Harus Meninggalkan
Maksiat Setelah kita tahu bahwa tidak
mengenakan jilbab adalah suatu
dosa atau suatu maksiat, bahkan
mendapat ancaman yang berat,
maka keadaan tidak berjilbab
tidak disangsikan lagi akan membahayakan keadaan orang
yang berpuasa. Kita tahu
bersama bahwa maksiat akan
mengurangi pahala orang yang
berpuasa, walaupun status
puasanya sah. Yang bisa jadi didapat adalah rasa lapar dan
haus saja, pahala tidak diperoleh
atau berkurang karena maksiat.
Bahkan Allah sendiri tidak peduli
akan lapar dan haus yang ia
tahan. Kita dapat melihat dari dalil-dalil berikut: Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ِﻪِﺑ َﻞَﻤَﻌْﻟﺍَﻭ ِﺭﻭُّﺰﻟﺍ َﻝْﻮَﻗ ْﻉَﺪَﻳ ْﻢَﻟ ْﻦَﻣ ُﻪَﻣﺎَﻌَﻃ َﻉَﺪَﻳ ْﻥَﺃ ﻰِﻓ ٌﺔَﺟﺎَﺣ ِﻪَّﻠِﻟ َﺲْﻴَﻠَﻓ ُﻪَﺑﺍَﺮَﺷَﻭ “Barangsiapa yang tidak
meninggalkan perkataan dusta
malah mengamalkannya, maka
Allah tidak butuh dari rasa lapar
dan haus yang dia tahan.” (HR.
Bukhari no. 1903). Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ِﻞْﻛَﻷﺍ َﻦِﻣ ُﻡﺎَﻴِّﺼﻟﺍ َﺲْﻴَﻟ ِﺏَﺮَّﺸﻟﺍَﻭ ، َﻦِﻣ ُﻡﺎَﻴِّﺼﻟﺍ ﺎَﻤَّﻧِﺇ ِﺚَﻓَّﺮﻟﺍَﻭ ِﻮْﻐَّﻠﻟﺍ ، ٌﺪَﺣَﺃ َﻚَّﺑﺎَﺳ ْﻥِﺈَﻓ ْﻞُﻘَﺘْﻠَﻓ َﻚْﻴَﻠَﻋ َﻞُﻬَﺟ ْﻭَﺃ : ﻲِّﻧِﺇ ٌﻢِﺋﺎَﺻ ، ٌﻢِﺋﺎَﺻ ﻲِّﻧِﺇ “Puasa bukanlah hanya menahan
makan dan minum saja. Akan
tetapi, puasa adalah dengan
menahan diri dari perkataan sia-
sia dan kata-kata kotor. Apabila
ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu,
katakanlah padanya, “Aku
sedang puasa, aku sedang
puasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah 3:
242. Al A’zhomi mengatakan
bahwa sanad hadits tersebut shahih) Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu
‘anhu berkata, “Seandainya
engkau berpuasa maka
hendaknya pendengaran,
penglihatan dan lisanmu turut
berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan
haram serta janganlah engkau
menyakiti tetanggamu. Bersikap
tenang dan berwibawalah di hari
puasamu. Janganlah kamu jadikan
hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama
saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277). Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah
berkata, “Ketika berpuasa
begitu keras larangan untuk
bermaksiat. Orang yang
berpuasa namun melakukan
maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu
bermaksiat, yaitu pahala
pokoknya tidak batal, hanya
kesempurnaan pahala yang tidak
ia peroleh. Orang yang berpuasa
namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa
sekaligus dosa karena maksiat
yang ia lakukan.” (Mirqotul
Mafatih Syarh Misykatul
Mashobih, 6: 308). Al Baydhowi rahimahullah
mengatakan, “Ibadah puasa
bukanlah hanya menahan diri
dari lapar dan dahaga saja.
Bahkan seseorang yang
menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat
dan mengajak jiwa pada
kebaikan. Jika tidak demikian,
sungguh Allah tidak akan melihat
amalannya, dalam artian tidak
akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4: 117). Penjelasan di atas menunjukkan
sia-sianya puasa orang yang
bermaksiat, termasuk dalam hal
ini adalah wanita yang tidak
berjilbab ketika puasa. Oleh
karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan
moment untuk memperbaiki diri.
Bulan Ramadhan ini seharusnya
dimanfaatkan untuk menjadikan
diri menjadi lebih baik. Pelan-
pelan di bulan ini bisa dilatih untuk berjilbab. Ingatlah
sebagaimana kata ulama salaf,
“Tanda diterimanya suatu
amalan adalah kebaikan
membuahkan kebaikan.” Belum Mau Berjilbab Beralasan belum siap berjilbab
karena yang penting hatinya
dulu diperbaiki?
Kami jawab, “Hati juga mesti
baik. Lahiriyah pun demikian.
Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan
perbuatan. Hanya pemahaman
keliru dari aliran Murji’ah yang
menganggap iman itu cukup
dengan amalan hati ditambah
perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman
butuh realisasi dalam tindakan
dan amalan” Beralasan belum siap berjilbab
karena mengenakannya begitu
gerah dan panas?
Kami jawab, “Lebih mending
mana, panas di dunia karena
melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena
durhaka?” Coba direnungkan! Beralasan belum siap berjilbab
karena banyak orang yang
berjilbab malah suka
menggunjing?
Kami jawab, “Ingat tidak bisa
kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu.
Itu paling hanya segelintir orang
yang demikian, namun tidak
semua. Sehingga tidak bisa kita
sebut setiap wanita yang
berjilbab suka menggunjing.” Beralasan lagi karena saat ini
belum siap berjilbab?
Kami jawab, “Jika tidak
sekarang, lalu kapan lagi? Apa
tahun depan? Apa dua tahun
lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambut ubanan?
Inilah was-was dari setan supaya
kita menunda amalan baik. Jika
tidak sekarang ini, mengapa
mesti menunda berhijab besok
dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini
ataukah sudah di alam barzakh,
bahkan kita tidak tahu keadaan
kita sejam atau semenit
mendatang. So … jangan
menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk
berjilbab.” Perkataan Ibnu ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma berikut
seharusnya menjadi renungan, َﺡﺎَﺒَّﺼﻟﺍ ِﺮِﻈَﺘْﻨَﺗ َﻼَﻓ َﺖْﻴَﺴْﻣَﺃ ﺍَﺫِﺇ ، ِﺮِﻈَﺘْﻨَﺗ َﻼَﻓ َﺖْﺤَﺒْﺻَﺃ ﺍَﺫِﺇَﻭ َﺀﺎَﺴَﻤْﻟﺍ ، َﻚِﺘَّﺤِﺻ ْﻦِﻣ ْﺬُﺧَﻭ َﻚِﺿَﺮَﻤِﻟ ، َﻚِﺗْﻮَﻤِﻟ َﻚِﺗﺎَﻴَﺣ ْﻦِﻣَﻭ “Jika engkau berada di waktu
sore, maka janganlah menunggu
pagi. Jika engkau berada di
waktu pagi, janganlah menunggu
waktu sore. Manfaatkanlah masa
sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu
sebelum datang matimu.” (HR.
Bukhari no. 6416). Hadits ini
menunjukkan dorongan untuk
menjadikan kematian seperti
berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan
kita bersiap-siap dengan amalan
sholeh. Juga sikap ini menjadikan
kita sedikit dalam berpanjang
angan-angan. Demikian kata Ibnu
Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. Moga di bulan penuh barokah ini,
kita diberi taufik oleh Allah untuk
semakin taat pada-Nya. Wallahu
waliyyut taufiq. Panggang-Gunung Kidul, 4
Ramadhan 1432 H (04/08/2011) Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id
10 Kesalahan dalamMendidik Anak
Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai
orang tua bertanggung jawab
terhadap amanah ini. Tidak sedikit
kesalahan dan kelalaian dalam
mendidik anak telah menjadi
fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ;
dan termasuk menghianati
amanah Allah.Adapun rumah,
adalah sekolah pertama bagi
anak. Kumpulan dari beberapa
rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat.
Bagi seorang anak, sebelum
mendapatkan pendidikan di
sekolah dan masyarakat, ia akan
mendapatkan pendidikan di rumah
dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya
dalam berinteraksi sosial. Oleh
karena itu, disinilah peran dan
tanggung jawab orang tua,
dituntut untuk tidak lalai dalam
mendidik anak-anak. BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK
ANAK Orang tua memiliki hak yang wajib
dilaksanakan oleh anak-anaknya.
Demikian pula anak, juga
mempunyai hak yang wajib dipikul
oleh kedua orang tuanya.
Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada
kedua orang tua. Allah juga
memerintahkan kita untuk
berbuat baik (ihsan) kepada
anak-anak serta bersungguh-
sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari
menunaikan amanah Allah.
Sebaliknya, melalaikan hak-hak
mereka termasuk perbuatan
khianat terhadap amanah Allah.
Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah
berfirman. “Artinya : Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan
amanah kepada yang berhak
menerimanya” [An-Nisa : 58] “Artinya : Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu
mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhamamd) dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-
amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui” [Al-Anfal : 27] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda. “Artinya : Setiap kalian adalah
pemimpin dan akan diminta
pertanggung jawaban terhadap
yang dipimpin. Maka, seorang
imam adalah pemimpin dan
bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami
adalah pemimpin bagi keluarganya
dan bertanggung jawab terhadap
yang dipimpinnya” [Hadits
Riwayat Al-Bukhari] “Artinya : Barangsiapa diberi
amanah oleh Allah untuk
memimpin lalu ia mati (sedangkan
pada) hari kematiannya dalam
keadaan mengkhianati
amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga
bagianya” [Hadits Riwayat Al-
Bukhari] SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK
ANAK Meskipun banyak orang tua yang
mengetahui, bahwa mendidik anak
merupakan tanggung jawab yang
besar, tetapi masih banyak orang
tua yang lalai dan menganggap
remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan
anak ini, sedikitpun tidak
menaruh perhatian terhadap
perkembangan anak-anaknya. Baru kemudian, ketika anak-anak
berbuat durhaka, melawan orang
tua, atau menyimpang dari
aturan agama dan tatanan sosial,
banyak orang tua mulai
kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya,
banyak yang tidak sadar, bahwa
sebenarnya orang tuanyalah
yang menjadi penyebab utama
munculnya sikap durhaka itu. Lalai atau salah dalam mendidik
anak itu bermacam-macam
bentuknya ; yang tanpa kita
sadari memberi andil munculnya
sikap durhaka kepada orang tua,
maupun kenakalan remaja. Berikut ini sepuluh bentuk
kesalahan yang sering dilakukan
oleh orang tua dalam mendidik
anak-anaknya. [1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan
Minder Pada Anak Kadang, ketika anak menangis,
kita menakut-nakuti mereka agar
berhenti menangis. Kita takuti
mereka dengan gambaran hantu,
jin, suara angin dan lain-lain.
Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut
pada bayangannya sendiri, takut
pada sesuatu yang sebenarnya
tidak perlu ditakuti. Misalnya
takut ke kamar mandi sendiri,
takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-
cerita tentang hantu, jin dan
lain-lain. Dan yang paling parah tanpa
disadari, kita telah menanamkan
rasa takut kepada dirinya sendiri.
Atau misalnya, kita khawatir
ketika mereka jatuh dan ada
darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya,
kita bersikap tenang dan
menampakkan senyuman
menghadapi ketakutan anak
tersebut. Bukannya justru
menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya
serta membesar-besarkan
masalah. Akibatnya, anak-anak
semakin keras tangisnya, dan
akan terbiasa menjadi takut
apabila melihat darah atau merasa sakit. [2]. Mendidiknya Menjadi Sombong,
Panjang Lidah, Congkak Terhadap
Orang Lain. Dan Itu Dianggap
Sebagai Sikap Pemberani. Kesalahan ini merupakan
kebalikan point pertama. Yang
benar ialah bersikap tengah-
tengah, tidak berlebihan dan
tidak dikurang-kurangi. Berani
tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada
orang lain. Tetapi, sikap berani
yang selaras tempatnya dan rasa
takut apabila memang sesuatu itu
harus ditakuti. Misalnya : takut
berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak
yang suka berbohong, atau rasa
takut kepada binatang buas yang
membahayakan. Kita didik anak
kita untuk berani dan tidak takut
dalam mengamalkan kebenaran. [3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup
Berfoya-foya, Bermewah-mewah
Dan Sombong. Dengan kebiasaan ini, sang anak
bisa tumbuh menjadi anak yang
suka kemewahan, suka
bersenang-senang. Hanya
mementingkan dirinya sendiri,
tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti
ini dapat merusak fitrah,
membunuh sikap istiqomah dalam
bersikap zuhud di dunia,
membinasakah muru’ah (harga
diri) dan kebenaran. [4]. Selalu Memenuhi Permintaan
Anak Sebagian orang tua ada yang
selalu memberi setiap yang
diinginkan anaknya, tanpa
memikirkan baik dan buruknya
bagi anak. Padahal, tidak setiap
yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan
usia dan kebutuhannya. Misalnya
si anak minta tas baru yang
sedang trend, padahal baru
sebulan yang lalu orang tua
membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-
hamburkan uang. Kalau anak
terbiasa terpenuhi segala
permintaanya, maka mereka akan
tumbuh menjadi anak yang tidak
peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta
mereka akan menjadi orang yang
tidak bisa membelanjakan
uangnya dengan baik. [5]. Selalu Memenuhi Permintaan
Anak Ketika Menangis, Terutama Anak
Yang Masih Kecil. Sering terjadi, anak kita yang
masih kecil minta sesuatu. Jika
kita menolaknya karena suatu
alasan, ia akan memaksa atau
mengeluarkan senjatanya, yaitu
menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi
permintaannya karena kasihan
atau agar anak segera berhenti
menangis. Hal ini dapat
menyebabkan sang anak menjadi
lemah, cengeng dan tidak punya jati diri. [6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam
Menghadapi Mereka, Melebihi
Batas Kewajaran. Misalnya dengan memukul mereka
hingga memar, memarahinya
dengan bentakan dan cacian,
ataupun dengan cara-cara keras
lainnya. Ini kadang terjadi ketika
sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali
melakukannya. [7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak,
Melebihi Batas Kewajaran Ada juga orang tua yang terlalu
pelit kepada anak-anaknya,
hingga anak-anaknya merasa
kurang terpenuhi kebutuhannya.
Pada akhirnya mendorong anak-
anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara.
Misalnya : dengan mencuri,
meminta-minta pada orang lain,
atau dengan cara lain. Yang lebih
parah lagi, ada orang tua yang
tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi
beban dirinya. Bahkan, ada pula
yang tega menjual anaknya,
karena merasa tidak mampu
membiayai hidup. Naa’udzubillah
mindzalik [8]. Tidak Mengasihi Dan
Menyayangi Mereka, Sehingga
Membuat Mereka Mencari Kasih
Sayang Diluar Rumah Hingga
Menemukan Yang Dicarinya. Fenomena demikian ini banyak
terjadi. Telah menyebabkan anak-
anak terjerumus ke dalam
pergaulan bebas –waiyadzubillah-.
Seorang anak perempuan
misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia
mencari perhatian dari laki-laki di
luar lingkungan keluarganya. Dia
merasa senang mendapatkan
perhatian dari laki-laki itu,
karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela
menyerahkan kehormatannya
demi cinta semu. [9]. Hanya Memperhatikan
Kebutuhan Jasmaninya Saja. Banyak orang tua yang mengira,
bahwa mereka telah memberikan
yang terbaik untuk anak-
anaknya. Banyak orang tua
merasa telah memberikan
pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi,
pakaian yang bagus dan sekolah
yang berkualitas. Sementara itu,
tidak ada upaya untuk mendidik
anak-anaknya agar beragama
secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa
anak tidak cukup hanya diberi
materi saja. Anak-anak juga
membutuhkan perhatian dan
kasih sayang. Bila kasih sayang
tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari
orang lain. [10]. Terlalu Berprasangka Baik
Kepada Anak-Anaknya Ada sebagian orang tua yang
selalu berprasangka baik kepada
anak-anaknya. Menyangka, bila
anak-anaknya baik-baik saja dan
merasa tidak perlu ada yang
dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-
anaknya, tidak mengenal teman
dekat anaknya, atau apa saja
aktifitasnya. Sangat percaya
kepada anak-anaknya. Ketika
tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala
menyimpang, misalnya terkena
narkoba, barulah orang tua
tersentak kaget. Berusaha
menutup-nutupinya serta segera
memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak
berguna. Demikianlah sepuluh kesalahan
yang sering dilakukan orang tua.
Yang mungkin kita juga tidak
menyadari bila telah
melakukannya. Untuk itu, marilah
berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan
dengan pendidikan anak, agar
kita terhindar dari kesalahan-
kesalahan dalam mendidik anak,
yang bisa menjadi fatal akibatnya
bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-
anak kita tumbuh menjadi
generasi shalih dan shalihah serta
berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishshawab. [Disadur oleh Ummu Shofia dari
kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil
Aulad, Al-Mazhahir Subulul
Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin
Ibrahim Al-Hamd] --------------------------------------- Children see...Children do... Jika anak dibesarkan dengan
celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan
permusuhan, ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan
ketakutan, ia belajar gelisah Jika anak dibesarkan dengan
rasa iba, ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan
olok-olok, ia belajar rendah diri Jika anak dibesarkan dengan iri
hati, ia belajar kedengkian Jika anak dibesarkan dengan
dipermalukan, ia belajar merasa
bersalah Jika anak dibesarkan dengan
dorongan, ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan
toleransi, ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan
pujian, ia belajar menghargai Jika anak dibesarkan dengan
penerimaan, ia belajar mencintai Jika anak dibesarkan dengan
dukungan, ia belajar menyenangi
diri Jika anak dibesarkan dengan
pengakuan, ia belajar mengenali
tujuan Jika anak dibesarkan dengan
rasa berbagi, ia belajar
kedermawanan Jika anak dibesarkan dengan
kejujuran dan keterbukaan, ia
belajar kebenaran dan keadilan Jika anak dibesarkan dengan
rasa aman, ia belajar menaruh
kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan
persahabatan, ia belajar
menemukan cinta dalam
kehidupan Jika anak dibesarkan dengan
ketentraman, ia belajar berdamai
dengan pikiran. Pada dasarnya setiap bayi yang
lahir ke dunia adalah bibit juara
, meskipun
kemudian saat tumbuh kembang, mengalami kondisi pengasuhan
yang tidak ideal, atau mengalami
kegagalan tumbuh kembang
akibat cacat fisik bawaan. Kita orang tua harus mengangkat
setiap penghalang yang
memisahkan anak kita dari
kesempatan menemukan
kekuatan dari kecerdasannya. Dijelaskan kecerdasan seorang
manusia begitu kompleks,
sehingga tidak terkait dengan
kondisi fisik dan kondisi otak
apalagi hasil tes standar.
Sebaliknya kecerdasan itu harus berkembang dengan berpijak
pada landasan setiap orang
punya kemampuan untuk
DISCOVERING ABILITY, sehingga saat
menemukan RIGHT PLACE orang
tersebut akan mampu menebarkan BENEFIT nyata yang
berarti pada lingkungannya. Dari penjelasan di atas perlu
rasanya kita mendefinisi ulang
tujuan orang tua mendidik anak-
anaknya baik di sekolah maupun
di rumah, bukan hanya untuk jadi
orang pintar yang nilai rapotnya gemilang. Tetapi lebih utama
adalah demi menjadikan anak-
anak kita manusia yang kreatif
dan mampu memecahkan setiap
masalah sedini mungkin. Digabung
dengan penginstalan Tauhid dan Akhlak dalam agama saat
membangun karakter mereka
lewat pola asuh di rumah. Maka
kita boleh menaruh harapan
besar pada gilirannya meraka
akan mampu menjadi generasi penerus yang bermanfaat bagi
umat dan agamanya. Tahap perkembangan otak anak
0 – 21 tahun menjadi 3 periode
penting yang di kutip dari Hadits
Rasulullah saww, sebagai berikut : - 7 tahun pertama : Biarkan anak bebas bermain tidak
boleh ada hukuman, saat umur ini
anak adalah RAJA, yang tidak
pernah salah. - 7 tahun kedua : Kenalkan anak pada hal baik dan
buruk dalam budi pekerti, buat
kesepakatan dengan anak. Beri
pujian saat mereka berbuat baik
dan beri hukuman, saat mereka
bertindak buruk atau diluar
kesepakatan. Saat umur ini anak
adalah PEMBANTU yang harus
belajar menaati peraturan dan
melaksanakan ketentuan. - 7 tahun ketiga : Beri anak kesempatan untuk
mencari alternatif dan biarkan
mereka memilih yang paling sesuai
dengan dirinya. Saat umur ini
anak adalah WAZIR / MENTERI yang
harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas dan
keputusannya. “Biarkanlah anak-anak kalian
BERMAIN dalam 7 tahun pertama,
kemudian DIDIK dan BIMBINGLAH
mereka dalam 7 tahun kedua
sedangkan 7 tahun ketiga
jadikanlah mereka bersama kalian dalam MUSYAWARAH dan
MENJALANKAN TUGAS” “Siapa di antara kita selaku ortu
yang pernah menghukum anak di
7 tahun petama, dengan
kekerasan verbal maupun
fisik…??” o…oww berasa kena
tinju telak, termasuk saya. “Maafkan Mama yaa Nak.. telah
mengurangi jatah bahagiamu di 7
tahun pertama, dengan banyak
membentak, memakai intonasi
suara sampai 5 oktaf saat
nyuruh ini dan itu.” Hiks..hiks.. “ Belum lagi pukulan dan cubitan
yang sempat mendarat di tubuh
mungilmu. Astaghfirullah…” Apabila 7 tahun pertama lewat
dengan cara yang SALAH maka 7
tahun kedua orang tua akan
banyak mengalami HAMBATAN
dalam BERKOMUNIKASI dengan
anaknya, AKIBATNYA 7 tahun ketiga anak akan RENTAN dan
TUMBUH jadi PRIBADI yang
KEHILANGAN KEPERCAYAAN dan
MORAL. Untuk menjauhkan orang tua dari
kesalahan di masa mendatang
maka saat anak menjadi RAJA
kecil penting bagi orang tua
untuk selalu : 1. Membiarkan mereka bebas
bertindak, memberi perintah,
bermain dan bersenang-
senang.. 2. Memberi perhatian dengan
santun penuh kasih sayang dan
kelembutan dalam tutur kata. 3. Memberi jawaban-jawaban
positif untuk semua pertanyaan
mereka. 4. Tidak memberikan disiplin yang
keras dan kaku 5. Anak terdidik dengan
mengambil contoh dari orang tua,
keluarga, guru dan
lingkungannya. 6. Orang tua harus memastikan
kebutuhan anaknya akan
kebebasan senantiasa terpenuhi
tanpa harus melupakan
keamanan dan keselamatan
mereka. 7. Menemani anak dengan
kuantitas pertemuan yang
memadai. Untuk anak usia di bawah 7
tahun, sebaiknya jangan bicara
kualitas, tanpa kuantitas. Karena ada 4 spesial moment
yang mereka butuhkan setiap
hari dari keberadaan orang
tuanya. Yaitu : 1. Jadilah orang pertama yang
dilihat anak kita saat mereka
membuka mata di pagi hari. 2. Penting untuk selalu melepas
kepergian mereka ke sekolah 3. Anak juga membutuhkan orang
tua ada saat mereka pulang
dalam kondisi lelah. 4. Orang tua seharusnya jadi
wajah terakhir yang ditatap
anaknya sebelum mereka terlelap. Apakah kita sudah menyambut
mereka dengan kata-kata
penghiburan yang dapat
mengurangi kepenatan tubuh dan
pikiran sepulang sekolah. Ataukah
kita termasuk orang tua yang hobi mengajukan kalimat standar
“Hari ini belajar apa..??” atau
bahkan langsung bertanya “Ada
PR nggak..??” sebelum mereka
sempat duduk dan bersalin
pakaian. Sungguh satu ungkapan yang tidak dibutuhkan otak anak
kita. Berikut adalah pendapat pakar
tumbuh kembang anak tentang
masa Golden Age : - 99% masalah yang dialami anak
Golden Age berasal dari kesalahan
orangtua dan gurunya di sekolah
formal. - Rumah dan sekolah seperti
penjara yang mengekang
kebebasan anak untuk bertindak,
beraktivitas dan bermain. - Mengharap anak di sekolah dan
di rumah turut perintah guru dan
orangtua untuk selalu tenang
dan diam adalah sebuah
kesalahan besar. Materi ini memang ditekankan
untuk memperbaiki pola asuh dan
pendidikan anak Golden Age, agar
tahapan berikutnya dapat
terlewati dengan lebih mulus. Timbul kemudian pertanyaan dari
orang tua seperti saya yang
sudah bertindak ‘bodoh’ pada
anak di tahap ini. Meminta maaf pada anak dan
selalu mengutamakan sikap,
perkataan dan contoh yang
positif. Jangan kemudian justru
memanjakan anak di atas 7
tahun. Tetap lanjut sesuai tahapan
berikutnya. Semoga Bermanfaat buat kita
para orang tua
orang tua bertanggung jawab
terhadap amanah ini. Tidak sedikit
kesalahan dan kelalaian dalam
mendidik anak telah menjadi
fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ;
dan termasuk menghianati
amanah Allah.Adapun rumah,
adalah sekolah pertama bagi
anak. Kumpulan dari beberapa
rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat.
Bagi seorang anak, sebelum
mendapatkan pendidikan di
sekolah dan masyarakat, ia akan
mendapatkan pendidikan di rumah
dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya
dalam berinteraksi sosial. Oleh
karena itu, disinilah peran dan
tanggung jawab orang tua,
dituntut untuk tidak lalai dalam
mendidik anak-anak. BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK
ANAK Orang tua memiliki hak yang wajib
dilaksanakan oleh anak-anaknya.
Demikian pula anak, juga
mempunyai hak yang wajib dipikul
oleh kedua orang tuanya.
Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada
kedua orang tua. Allah juga
memerintahkan kita untuk
berbuat baik (ihsan) kepada
anak-anak serta bersungguh-
sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari
menunaikan amanah Allah.
Sebaliknya, melalaikan hak-hak
mereka termasuk perbuatan
khianat terhadap amanah Allah.
Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah
berfirman. “Artinya : Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan
amanah kepada yang berhak
menerimanya” [An-Nisa : 58] “Artinya : Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu
mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhamamd) dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-
amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui” [Al-Anfal : 27] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda. “Artinya : Setiap kalian adalah
pemimpin dan akan diminta
pertanggung jawaban terhadap
yang dipimpin. Maka, seorang
imam adalah pemimpin dan
bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami
adalah pemimpin bagi keluarganya
dan bertanggung jawab terhadap
yang dipimpinnya” [Hadits
Riwayat Al-Bukhari] “Artinya : Barangsiapa diberi
amanah oleh Allah untuk
memimpin lalu ia mati (sedangkan
pada) hari kematiannya dalam
keadaan mengkhianati
amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga
bagianya” [Hadits Riwayat Al-
Bukhari] SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK
ANAK Meskipun banyak orang tua yang
mengetahui, bahwa mendidik anak
merupakan tanggung jawab yang
besar, tetapi masih banyak orang
tua yang lalai dan menganggap
remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan
anak ini, sedikitpun tidak
menaruh perhatian terhadap
perkembangan anak-anaknya. Baru kemudian, ketika anak-anak
berbuat durhaka, melawan orang
tua, atau menyimpang dari
aturan agama dan tatanan sosial,
banyak orang tua mulai
kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya,
banyak yang tidak sadar, bahwa
sebenarnya orang tuanyalah
yang menjadi penyebab utama
munculnya sikap durhaka itu. Lalai atau salah dalam mendidik
anak itu bermacam-macam
bentuknya ; yang tanpa kita
sadari memberi andil munculnya
sikap durhaka kepada orang tua,
maupun kenakalan remaja. Berikut ini sepuluh bentuk
kesalahan yang sering dilakukan
oleh orang tua dalam mendidik
anak-anaknya. [1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan
Minder Pada Anak Kadang, ketika anak menangis,
kita menakut-nakuti mereka agar
berhenti menangis. Kita takuti
mereka dengan gambaran hantu,
jin, suara angin dan lain-lain.
Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut
pada bayangannya sendiri, takut
pada sesuatu yang sebenarnya
tidak perlu ditakuti. Misalnya
takut ke kamar mandi sendiri,
takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-
cerita tentang hantu, jin dan
lain-lain. Dan yang paling parah tanpa
disadari, kita telah menanamkan
rasa takut kepada dirinya sendiri.
Atau misalnya, kita khawatir
ketika mereka jatuh dan ada
darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya,
kita bersikap tenang dan
menampakkan senyuman
menghadapi ketakutan anak
tersebut. Bukannya justru
menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya
serta membesar-besarkan
masalah. Akibatnya, anak-anak
semakin keras tangisnya, dan
akan terbiasa menjadi takut
apabila melihat darah atau merasa sakit. [2]. Mendidiknya Menjadi Sombong,
Panjang Lidah, Congkak Terhadap
Orang Lain. Dan Itu Dianggap
Sebagai Sikap Pemberani. Kesalahan ini merupakan
kebalikan point pertama. Yang
benar ialah bersikap tengah-
tengah, tidak berlebihan dan
tidak dikurang-kurangi. Berani
tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada
orang lain. Tetapi, sikap berani
yang selaras tempatnya dan rasa
takut apabila memang sesuatu itu
harus ditakuti. Misalnya : takut
berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak
yang suka berbohong, atau rasa
takut kepada binatang buas yang
membahayakan. Kita didik anak
kita untuk berani dan tidak takut
dalam mengamalkan kebenaran. [3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup
Berfoya-foya, Bermewah-mewah
Dan Sombong. Dengan kebiasaan ini, sang anak
bisa tumbuh menjadi anak yang
suka kemewahan, suka
bersenang-senang. Hanya
mementingkan dirinya sendiri,
tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti
ini dapat merusak fitrah,
membunuh sikap istiqomah dalam
bersikap zuhud di dunia,
membinasakah muru’ah (harga
diri) dan kebenaran. [4]. Selalu Memenuhi Permintaan
Anak Sebagian orang tua ada yang
selalu memberi setiap yang
diinginkan anaknya, tanpa
memikirkan baik dan buruknya
bagi anak. Padahal, tidak setiap
yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan
usia dan kebutuhannya. Misalnya
si anak minta tas baru yang
sedang trend, padahal baru
sebulan yang lalu orang tua
membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-
hamburkan uang. Kalau anak
terbiasa terpenuhi segala
permintaanya, maka mereka akan
tumbuh menjadi anak yang tidak
peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta
mereka akan menjadi orang yang
tidak bisa membelanjakan
uangnya dengan baik. [5]. Selalu Memenuhi Permintaan
Anak Ketika Menangis, Terutama Anak
Yang Masih Kecil. Sering terjadi, anak kita yang
masih kecil minta sesuatu. Jika
kita menolaknya karena suatu
alasan, ia akan memaksa atau
mengeluarkan senjatanya, yaitu
menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi
permintaannya karena kasihan
atau agar anak segera berhenti
menangis. Hal ini dapat
menyebabkan sang anak menjadi
lemah, cengeng dan tidak punya jati diri. [6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam
Menghadapi Mereka, Melebihi
Batas Kewajaran. Misalnya dengan memukul mereka
hingga memar, memarahinya
dengan bentakan dan cacian,
ataupun dengan cara-cara keras
lainnya. Ini kadang terjadi ketika
sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali
melakukannya. [7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak,
Melebihi Batas Kewajaran Ada juga orang tua yang terlalu
pelit kepada anak-anaknya,
hingga anak-anaknya merasa
kurang terpenuhi kebutuhannya.
Pada akhirnya mendorong anak-
anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara.
Misalnya : dengan mencuri,
meminta-minta pada orang lain,
atau dengan cara lain. Yang lebih
parah lagi, ada orang tua yang
tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi
beban dirinya. Bahkan, ada pula
yang tega menjual anaknya,
karena merasa tidak mampu
membiayai hidup. Naa’udzubillah
mindzalik [8]. Tidak Mengasihi Dan
Menyayangi Mereka, Sehingga
Membuat Mereka Mencari Kasih
Sayang Diluar Rumah Hingga
Menemukan Yang Dicarinya. Fenomena demikian ini banyak
terjadi. Telah menyebabkan anak-
anak terjerumus ke dalam
pergaulan bebas –waiyadzubillah-.
Seorang anak perempuan
misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia
mencari perhatian dari laki-laki di
luar lingkungan keluarganya. Dia
merasa senang mendapatkan
perhatian dari laki-laki itu,
karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela
menyerahkan kehormatannya
demi cinta semu. [9]. Hanya Memperhatikan
Kebutuhan Jasmaninya Saja. Banyak orang tua yang mengira,
bahwa mereka telah memberikan
yang terbaik untuk anak-
anaknya. Banyak orang tua
merasa telah memberikan
pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi,
pakaian yang bagus dan sekolah
yang berkualitas. Sementara itu,
tidak ada upaya untuk mendidik
anak-anaknya agar beragama
secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa
anak tidak cukup hanya diberi
materi saja. Anak-anak juga
membutuhkan perhatian dan
kasih sayang. Bila kasih sayang
tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari
orang lain. [10]. Terlalu Berprasangka Baik
Kepada Anak-Anaknya Ada sebagian orang tua yang
selalu berprasangka baik kepada
anak-anaknya. Menyangka, bila
anak-anaknya baik-baik saja dan
merasa tidak perlu ada yang
dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-
anaknya, tidak mengenal teman
dekat anaknya, atau apa saja
aktifitasnya. Sangat percaya
kepada anak-anaknya. Ketika
tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala
menyimpang, misalnya terkena
narkoba, barulah orang tua
tersentak kaget. Berusaha
menutup-nutupinya serta segera
memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak
berguna. Demikianlah sepuluh kesalahan
yang sering dilakukan orang tua.
Yang mungkin kita juga tidak
menyadari bila telah
melakukannya. Untuk itu, marilah
berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan
dengan pendidikan anak, agar
kita terhindar dari kesalahan-
kesalahan dalam mendidik anak,
yang bisa menjadi fatal akibatnya
bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-
anak kita tumbuh menjadi
generasi shalih dan shalihah serta
berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishshawab. [Disadur oleh Ummu Shofia dari
kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil
Aulad, Al-Mazhahir Subulul
Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin
Ibrahim Al-Hamd] --------------------------------------- Children see...Children do... Jika anak dibesarkan dengan
celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan
permusuhan, ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan
ketakutan, ia belajar gelisah Jika anak dibesarkan dengan
rasa iba, ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan
olok-olok, ia belajar rendah diri Jika anak dibesarkan dengan iri
hati, ia belajar kedengkian Jika anak dibesarkan dengan
dipermalukan, ia belajar merasa
bersalah Jika anak dibesarkan dengan
dorongan, ia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan
toleransi, ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan
pujian, ia belajar menghargai Jika anak dibesarkan dengan
penerimaan, ia belajar mencintai Jika anak dibesarkan dengan
dukungan, ia belajar menyenangi
diri Jika anak dibesarkan dengan
pengakuan, ia belajar mengenali
tujuan Jika anak dibesarkan dengan
rasa berbagi, ia belajar
kedermawanan Jika anak dibesarkan dengan
kejujuran dan keterbukaan, ia
belajar kebenaran dan keadilan Jika anak dibesarkan dengan
rasa aman, ia belajar menaruh
kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan
persahabatan, ia belajar
menemukan cinta dalam
kehidupan Jika anak dibesarkan dengan
ketentraman, ia belajar berdamai
dengan pikiran. Pada dasarnya setiap bayi yang
lahir ke dunia adalah bibit juara
kemudian saat tumbuh kembang, mengalami kondisi pengasuhan
yang tidak ideal, atau mengalami
kegagalan tumbuh kembang
akibat cacat fisik bawaan
setiap penghalang yang
memisahkan anak kita dari
kesempatan menemukan
kekuatan dari kecerdasannya.
manusia begitu kompleks,
sehingga tidak terkait dengan
kondisi fisik dan kondisi otak
apalagi hasil tes standar.
Sebaliknya kecerdasan itu harus berkembang dengan berpijak
pada landasan setiap orang
punya kemampuan untuk
DISCOVERING ABILITY, sehingga saat
menemukan RIGHT PLACE orang
tersebut akan mampu menebarkan BENEFIT nyata yang
berarti pada lingkungannya. Dari penjelasan di atas perlu
rasanya kita mendefinisi ulang
tujuan orang tua mendidik anak-
anaknya baik di sekolah maupun
di rumah, bukan hanya untuk jadi
orang pintar yang nilai rapotnya gemilang. Tetapi lebih utama
adalah demi menjadikan anak-
anak kita manusia yang kreatif
dan mampu memecahkan setiap
masalah sedini mungkin. Digabung
dengan penginstalan Tauhid dan Akhlak dalam agama saat
membangun karakter mereka
lewat pola asuh di rumah. Maka
kita boleh menaruh harapan
besar pada gilirannya meraka
akan mampu menjadi generasi penerus yang bermanfaat bagi
umat dan agamanya. Tahap perkembangan otak anak
0 – 21 tahun menjadi 3 periode
penting yang di kutip dari Hadits
Rasulullah saww, sebagai berikut : - 7 tahun pertama : Biarkan anak bebas bermain tidak
boleh ada hukuman, saat umur ini
anak adalah RAJA, yang tidak
pernah salah. - 7 tahun kedua : Kenalkan anak pada hal baik dan
buruk dalam budi pekerti, buat
kesepakatan dengan anak. Beri
pujian saat mereka berbuat baik
dan beri hukuman
bertindak buruk atau diluar
kesepakatan. Saat umur ini anak
adalah PEMBANTU yang harus
belajar menaati peraturan dan
melaksanakan ketentuan. - 7 tahun ketiga : Beri anak kesempatan untuk
mencari alternatif dan biarkan
mereka memilih yang paling sesuai
dengan dirinya. Saat umur ini
anak adalah WAZIR / MENTERI yang
harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas dan
keputusannya. “Biarkanlah anak-anak kalian
BERMAIN dalam 7 tahun pertama,
kemudian DIDIK dan BIMBINGLAH
mereka dalam 7 tahun kedua
sedangkan 7 tahun ketiga
jadikanlah mereka bersama kalian dalam MUSYAWARAH dan
MENJALANKAN TUGAS”
yang pernah menghukum anak di
7 tahun petama, dengan
kekerasan verbal maupun
fisik…??” o…oww berasa kena
tinju telak, termasuk saya. “Maafkan Mama yaa Nak.. telah
mengurangi jatah bahagiamu di 7
tahun pertama, dengan banyak
membentak, memakai intonasi
suara sampai 5 oktaf saat
nyuruh ini dan itu.” Hiks..hiks.. “ Belum lagi pukulan dan cubitan
yang sempat mendarat di tubuh
mungilmu. Astaghfirullah…” Apabila 7 tahun pertama lewat
dengan cara yang SALAH maka 7
tahun kedua orang tua akan
banyak mengalami HAMBATAN
dalam BERKOMUNIKASI dengan
anaknya, AKIBATNYA 7 tahun ketiga anak akan RENTAN dan
TUMBUH jadi PRIBADI yang
KEHILANGAN KEPERCAYAAN dan
MORAL. Untuk menjauhkan orang tua dari
kesalahan di masa mendatang
maka saat anak menjadi RAJA
kecil penting bagi orang tua
untuk selalu : 1. Membiarkan mereka bebas
bertindak, memberi perintah,
bermain dan bersenang-
senang..
santun penuh kasih sayang dan
kelembutan dalam tutur kata. 3. Memberi jawaban-jawaban
positif untuk semua pertanyaan
mereka. 4. Tidak memberikan disiplin yang
keras dan kaku 5. Anak terdidik dengan
mengambil contoh dari orang tua,
keluarga, guru dan
lingkungannya. 6. Orang tua harus memastikan
kebutuhan anaknya akan
kebebasan senantiasa terpenuhi
tanpa harus melupakan
keamanan dan keselamatan
mereka. 7. Menemani anak dengan
kuantitas pertemuan yang
memadai. Untuk anak usia di bawah 7
tahun, sebaiknya jangan bicara
kualitas, tanpa kuantitas. Karena ada 4 spesial moment
yang mereka butuhkan setiap
hari dari keberadaan orang
tuanya. Yaitu : 1. Jadilah orang pertama yang
dilihat anak kita saat mereka
membuka mata di pagi hari. 2. Penting untuk selalu melepas
kepergian mereka ke sekolah 3. Anak juga membutuhkan orang
tua ada saat mereka pulang
dalam kondisi lelah. 4. Orang tua seharusnya jadi
wajah terakhir yang ditatap
anaknya sebelum mereka terlelap. Apakah kita sudah menyambut
mereka dengan kata-kata
penghiburan yang dapat
mengurangi kepenatan tubuh dan
pikiran sepulang sekolah. Ataukah
kita termasuk orang tua yang hobi mengajukan kalimat standar
“Hari ini belajar apa..??” atau
bahkan langsung bertanya “Ada
PR nggak..??” sebelum mereka
sempat duduk dan bersalin
pakaian. Sungguh satu ungkapan yang tidak dibutuhkan otak anak
kita. Berikut adalah pendapat pakar
tumbuh kembang anak tentang
masa Golden Age : - 99% masalah yang dialami anak
Golden Age berasal dari kesalahan
orangtua dan gurunya di sekolah
formal. - Rumah dan sekolah seperti
penjara yang mengekang
kebebasan anak untuk bertindak,
beraktivitas dan bermain.
di rumah turut perintah guru dan
orangtua untuk selalu tenang
dan diam adalah sebuah
kesalahan besar.
untuk memperbaiki pola asuh dan
pendidikan anak Golden Age, agar
tahapan berikutnya dapat
terlewati dengan lebih mulus. Timbul kemudian pertanyaan dari
orang tua seperti saya yang
sudah bertindak ‘bodoh’ pada
anak di tahap ini. Meminta maaf pada anak dan
selalu mengutamakan sikap,
perkataan dan contoh yang
positif. Jangan kemudian justru
memanjakan anak di atas 7
tahun. Tetap lanjut sesuai tahapan
berikutnya. Semoga Bermanfaat buat kita
para orang tua
IslamDiaries,ibu
Imam Adz-Dzahabi
rahimahullaah,b eliau berkata
dalam kitabnya Al-Kabaair,#Ibu
mu telah mengandungmu di
dalam perutnya selama sembilan
bulan, seolah-olah sembilan tahun Dia, #Ibu mu bersusah
payah ketika melahirkanmu yang
hampir saja menghilangkan
nyawanya.Dia telah menyusuimu,
dan
ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan
tangan kirinya, dia
lebih utamakan dirimu
dari pada dirinya serta
makanannya.Dia jadikan pangkuannya
sebagai ayunan bagimu, Dia, #Ibu
mu telah memberikanmu semua
kebaikan dan apabila
kamu sakit atau
mengeluh,Tampak darinya kesusahan yang luar
biasa dan panjang
sekali kesedihannya,da n #Ibu mu
keluarkan harta untuk
membayar
dokter yang mengobatimu,Sea ndainya dipilih
antara hidupmu dan
kematiannya, maka dia
akan meminta supaya
kamu hidup dengan
suaranya yang paling keras. Betapa banyak kebaikan #Ibu,
sedangkan
engkau
balas dengan akhlak
yang tidak baik.Dia, #Ibu mu selalu
mendo’akanmu dengan taufik, baik secara
sembunyi maupun terang-
terangan ,Tatkala #Ibumu
membutuhkanmu disaat dia
sudah tua renta, engkau jadikan
dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau
kenyang dalam keadaan dia
lapar.Engkau puas minum dalam
keadaan dia kehausan,Engkau
lupakan semua kebaikan yang
pernah dia perbuat.Berat rasanya atasmu memelihara/
meng urusnya padahal itu adalah
urusan yang mudah,
Engkau kira #Ibu mu ada di
sisimu umurnya panjang padahal
umurnya pendek, Engkau tinggalkan padahal dia tidak
punya penolong selain
kamu,Padahal Allah telah
melarangmu berkata kasar
seperti ‘ah’ atau yang lain
nya,Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi
tentang besarnya jasa
seorang #Ibu, dan menjelaskan
jasa ortu kpd anak tidak bisa
dihitung,Berbua t baik kepada #
Ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk
menghapuskan dosa-dosa,sy
sering berucap
"Secinta cintanya anak
kpd OrTu, gak akan sebanding
dengan Cinta OrTu ke anak", dan akhirnya sy
mengerti,Anak memiliki banyak
cinta ke lain2nya selain OrTu,
tapi fokus OrTu hanya kpd anak
Jangan sakiti #Ibu mu
rahimahullaah,b eliau berkata
dalam kitabnya Al-Kabaair,#Ibu
mu telah mengandungmu di
dalam perutnya selama sembilan
bulan, seolah-olah sembilan tahun Dia, #Ibu mu bersusah
payah ketika melahirkanmu yang
hampir saja menghilangkan
nyawanya.Dia telah menyusuimu,
dan
ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan
tangan kirinya, dia
lebih utamakan dirimu
dari pada dirinya serta
makanannya.Dia jadikan pangkuannya
sebagai ayunan bagimu, Dia, #Ibu
mu telah memberikanmu semua
kebaikan dan apabila
kamu sakit atau
mengeluh,Tampak darinya kesusahan yang luar
biasa dan panjang
sekali kesedihannya,da n #Ibu mu
keluarkan harta untuk
membayar
dokter yang mengobatimu,Sea ndainya dipilih
antara hidupmu dan
kematiannya, maka dia
akan meminta supaya
kamu hidup dengan
suaranya yang paling keras. Betapa banyak kebaikan #Ibu,
sedangkan
engkau
balas dengan akhlak
yang tidak baik.Dia, #Ibu mu selalu
mendo’akanmu dengan taufik, baik secara
sembunyi maupun terang-
terangan ,Tatkala #Ibumu
membutuhkanmu disaat dia
sudah tua renta, engkau jadikan
dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau
kenyang dalam keadaan dia
lapar.Engkau puas minum dalam
keadaan dia kehausan,Engkau
lupakan semua kebaikan yang
pernah dia perbuat.Berat rasanya atasmu memelihara/
meng urusnya padahal itu adalah
urusan yang mudah,
Engkau kira #Ibu mu ada di
sisimu umurnya panjang padahal
umurnya pendek, Engkau tinggalkan padahal dia tidak
punya penolong selain
kamu,Padahal Allah telah
melarangmu berkata kasar
seperti ‘ah’ atau yang lain
nya,Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi
tentang besarnya jasa
seorang #Ibu, dan menjelaskan
jasa ortu kpd anak tidak bisa
dihitung,Berbua t baik kepada #
Ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk
menghapuskan dosa-dosa,sy
sering berucap
"Secinta cintanya anak
kpd OrTu, gak akan sebanding
dengan Cinta OrTu ke anak", dan akhirnya sy
mengerti,Anak memiliki banyak
cinta ke lain2nya selain OrTu,
tapi fokus OrTu hanya kpd anak
Jangan sakiti #Ibu mu
IslamDiaries. Ayah
Tahukah kamu, bisa
jadi #Ayah rela tdk berbicara dgn
mu, agar
kamu dan #Ibu mu jd lbh sering
ngobrol via
telfon,Bs jadi sepulang #Ayah kerja dan dengan
wajah lelah dia selalu
menanyakan pada #Ibu tentang
apa yang kau
lakukan seharian? ,Dan bisa jadi #
Ayah amat sangat ingin membacakan dongeng
untuk mu spt yg #Ibu mu
lakukan,Saat kamu sakit Flu, #
Ayah yg terlalu khawatir
sampai kadang sedikit
bentak dgn berkata: "Sudah di bilang! kamu
jangan minum air
dingin!" , Ketahuilah dan
mengertilah, saat itu #Ayah kita
benar- benar
mengkhawatirkan keadaanmu. Ketika Kamu mulai
menuntut pada #Ayah untuk
dapat izin keluar
malam, dan dia
bersikap tegas dan
mengatakan: "Tidak boleh!" ,Bagi #Ayah mu, kamu
adalah sesuatu yang sangat -
sangat luar biasa
berharga.., Setelah itu kamu
marah pada #Ayah, dan masuk ke
kamar sambil membanting pintu..Dan yang
datang mengetok
pintu dan membujukmu
agar tidak marah
adalah #Ibu mu... Tahukah kamu,
bisa jadi bahwa saat itu #AYah
memejamkan matanya dan
menangis
menahan gejolak dalam
batinnya, Tapi dia
HARUS menjagamu? Saat #Ayah melihatmu duduk di Panggung
Pelaminan
bersama seseorang
Lelaki yang di
anggapnya pantas, dia
pun tersenyum bahagia... Apakah kamu
mengetahui, di hari
yang bahagia itu #Ayah pergi
kebelakang
panggung sebentar,
dan menangis? Menangis bahagia..Bisa jadi #Ayah
berdoa: "Ya Allah,Putri kecilku
yang
lucu dan kucintai telah
menjadi
wanita.Bahagiakanlah ia bersama suaminya..." Setelah itu #
Ayah dan #Ibu hanya bisa
menunggu
kedatanganmu bersama
cucu-cucunya yang
sesekali datang untuk menjenguk.. #Ibu adalah sosok yg
luar
biasa, kelembutan nya,
tutur kata nya. #Ayah Adalah
sosok yang juga
hebat..Dan #Ayah serta #Ibu adalah orang pertama
yang selalu yakin
bahwa "KAMU BISA"
dalam segala hal. Tulislah satu
kebiasaan #Ibu mu dan #Ayah mu
yg paling kita sebel banget... Pikirkanlah, Kesebel an
kita akan kebiasaan #Ibu dan #
Ayah kita itu. Justru akan
membuat kita rindu se
rindu rindunya jk
mereka tiada,Mari kita mendoa'kan #Ibu dan #Ayah kita
yuk... Semoga manfaat.
Selamat menjalani hari.
Assalamualaykum
jadi #Ayah rela tdk berbicara dgn
mu, agar
kamu dan #Ibu mu jd lbh sering
ngobrol via
telfon,Bs jadi sepulang #Ayah kerja dan dengan
wajah lelah dia selalu
menanyakan pada #Ibu tentang
apa yang kau
lakukan seharian? ,Dan bisa jadi #
Ayah amat sangat ingin membacakan dongeng
untuk mu spt yg #Ibu mu
lakukan,Saat kamu sakit Flu, #
Ayah yg terlalu khawatir
sampai kadang sedikit
bentak dgn berkata: "Sudah di bilang! kamu
jangan minum air
dingin!" , Ketahuilah dan
mengertilah, saat itu #Ayah kita
benar- benar
mengkhawatirkan keadaanmu. Ketika Kamu mulai
menuntut pada #Ayah untuk
dapat izin keluar
malam, dan dia
bersikap tegas dan
mengatakan: "Tidak boleh!" ,Bagi #Ayah mu, kamu
adalah sesuatu yang sangat -
sangat luar biasa
berharga.., Setelah itu kamu
marah pada #Ayah, dan masuk ke
kamar sambil membanting pintu..Dan yang
datang mengetok
pintu dan membujukmu
agar tidak marah
adalah #Ibu mu... Tahukah kamu,
bisa jadi bahwa saat itu #AYah
memejamkan matanya dan
menangis
menahan gejolak dalam
batinnya, Tapi dia
HARUS menjagamu? Saat #Ayah melihatmu duduk di Panggung
Pelaminan
bersama seseorang
Lelaki yang di
anggapnya pantas, dia
pun tersenyum bahagia... Apakah kamu
mengetahui, di hari
yang bahagia itu #Ayah pergi
kebelakang
panggung sebentar,
dan menangis? Menangis bahagia..Bisa jadi #Ayah
berdoa: "Ya Allah,Putri kecilku
yang
lucu dan kucintai telah
menjadi
wanita.Bahagiakanlah ia bersama suaminya..." Setelah itu #
Ayah dan #Ibu hanya bisa
menunggu
kedatanganmu bersama
cucu-cucunya yang
sesekali datang untuk menjenguk.. #Ibu adalah sosok yg
luar
biasa, kelembutan nya,
tutur kata nya. #Ayah Adalah
sosok yang juga
hebat..Dan #Ayah serta #Ibu adalah orang pertama
yang selalu yakin
bahwa "KAMU BISA"
dalam segala hal. Tulislah satu
kebiasaan #Ibu mu dan #Ayah mu
yg paling kita sebel banget... Pikirkanlah, Kesebel an
kita akan kebiasaan #Ibu dan #
Ayah kita itu. Justru akan
membuat kita rindu se
rindu rindunya jk
mereka tiada,Mari kita mendoa'kan #Ibu dan #Ayah kita
yuk... Semoga manfaat.
Selamat menjalani hari.
Assalamualaykum
RENUNGAN KEMATIAN. @•• Air Mata Taubat••
Waktu sangat Singkat
Jarak semakin dekat Dia Datang
tanpa di minta Dia Tandang
tanpa di undang Siapkah kita
kala saat itu mendekat. Saat
Izrail datang menyapa.. Sebaik Hidup adalah menghisab diri dari
hari kehari Sebaik Nafas adalah
merenungi setiap detik yang
telah terlalui.. Saatnya bertanya
pada diri ; Sudah Cukupkah
bekal kita kembali ke Kampung halaman sesungguhnya??
Allohumma sholli ala
Muhammaddin wa Aali
Muhammad.. Allohuma Ya Karim..
Dengan Keagungan NamaMu
yang memenuhi Alam Dengan Keindahan AsmaMu yang tiada
memperdayakan Disini kami
bersimpuh mengetuk PintuMu Ya
Illahi Robbi.. Disini kami
mengadukan kehinaan kami
sebagai hamba yang meng ibakan kasih sayangMu.. Ya Illahi
Robbi Ya Karimmu Ya Mujiba
Sailin, Betapa banyak hari kami
yang terlalu sia-sia.. Betapa
Panjang perjalanan yang kami
habiskan tuk hanya memikirkan dunia hina Betapa Nista Diri kami
di Hadapan Mu ya Illahi Robbi..
HambaMu yang tak Layak ini
meng iba dengan penuh
pengharapan.. Mengetuk
PintuMu dengan penuh ratapan.. Ridhoi sisa perjalanan Hidup
kami.. Mohon Bimbinglah kami ke
jalan yang Engkau Ridhoi kami
melaluinya.. Ya Aziz Ya Rohman
Ya Ghofar... Bila Engkau tidak
berkenan mengabulkan ratapan kami.. Maka kemana lagi wajah
penuh hina ini kami palingkan..
Bila Engkau tidak berkenan
membimbing kami mencari Ridho
Mu Maka kemana lagi kami
memohon petunjuk saat di sesatkan.. Ya Awwalin Ya Akhirin..
Bila kami tak pantas menjadi
HambaMu.. Maka kemana lagi
kami harus berharap belas
kasihMu.. Ya ALLAH.. andai air
mata ini mampu menghapus dosa- dosa kami maka akan kami
habiskan hari-hari kami meratap
di PintuMU.. Ya Illahi Robbi..
Anugrahkan dan Mohon arahkan
kami jalan-jalan yang tiada
menipu kami diatas semua jalan serupa di hadapan kami...
Allohumma Bi Haqqi Muhammad
wa Aali Muhammad.. Dengan
segenap keutamaan yang Kau
Curahkan kepada Rasul Mu
Muhammad Sholallahu Alaihi Wa Aalihi Wa Salam Dengan segala
kehormatan dan keutamaan
yang telah kau curahkan
kepada Ahlul Bayt Rasul Mu
diatas kami Kami Mohon Ya Illahi
Hakim... Janganlah Kau timpakan kami cobaan yang tak sanggup
kami memikulnya.. Janganlah Kau
curahkan kami fitnah yang tak
mampu kami membendungnya..
Allohumma Sholi ala Muhammadin
Wa Aali Muhammad... Ya Robbana Ya Nur Ya Illahi Alamin Mohon
matikan kami dalam Khusnul
Khotimah.. Mohon lapangkan
dada kami.. Mohon mudahkan
Lidah kami dalam melafadzkan
LAA ILLAHHA ILALLAH MUHAMMADDURROSU LULLAH..
Astaghfirullahu robbi Wa Atubu
Illaihi. Astaghfirullahu robbi Wa
Atubu Illaihi. Astaghfirullahu
robbi Wa Atubu Illaihi.
Jarak semakin dekat Dia Datang
tanpa di minta Dia Tandang
tanpa di undang Siapkah kita
kala saat itu mendekat. Saat
Izrail datang menyapa.. Sebaik Hidup adalah menghisab diri dari
hari kehari Sebaik Nafas adalah
merenungi setiap detik yang
telah terlalui.. Saatnya bertanya
pada diri ; Sudah Cukupkah
bekal kita kembali ke Kampung halaman sesungguhnya??
Allohumma sholli ala
Muhammaddin wa Aali
Muhammad.. Allohuma Ya Karim..
Dengan Keagungan NamaMu
yang memenuhi Alam Dengan Keindahan AsmaMu yang tiada
memperdayakan Disini kami
bersimpuh mengetuk PintuMu Ya
Illahi Robbi.. Disini kami
mengadukan kehinaan kami
sebagai hamba yang meng ibakan kasih sayangMu.. Ya Illahi
Robbi Ya Karimmu Ya Mujiba
Sailin, Betapa banyak hari kami
yang terlalu sia-sia.. Betapa
Panjang perjalanan yang kami
habiskan tuk hanya memikirkan dunia hina Betapa Nista Diri kami
di Hadapan Mu ya Illahi Robbi..
HambaMu yang tak Layak ini
meng iba dengan penuh
pengharapan.. Mengetuk
PintuMu dengan penuh ratapan.. Ridhoi sisa perjalanan Hidup
kami.. Mohon Bimbinglah kami ke
jalan yang Engkau Ridhoi kami
melaluinya.. Ya Aziz Ya Rohman
Ya Ghofar... Bila Engkau tidak
berkenan mengabulkan ratapan kami.. Maka kemana lagi wajah
penuh hina ini kami palingkan..
Bila Engkau tidak berkenan
membimbing kami mencari Ridho
Mu Maka kemana lagi kami
memohon petunjuk saat di sesatkan.. Ya Awwalin Ya Akhirin..
Bila kami tak pantas menjadi
HambaMu.. Maka kemana lagi
kami harus berharap belas
kasihMu.. Ya ALLAH.. andai air
mata ini mampu menghapus dosa- dosa kami maka akan kami
habiskan hari-hari kami meratap
di PintuMU.. Ya Illahi Robbi..
Anugrahkan dan Mohon arahkan
kami jalan-jalan yang tiada
menipu kami diatas semua jalan serupa di hadapan kami...
Allohumma Bi Haqqi Muhammad
wa Aali Muhammad.. Dengan
segenap keutamaan yang Kau
Curahkan kepada Rasul Mu
Muhammad Sholallahu Alaihi Wa Aalihi Wa Salam Dengan segala
kehormatan dan keutamaan
yang telah kau curahkan
kepada Ahlul Bayt Rasul Mu
diatas kami Kami Mohon Ya Illahi
Hakim... Janganlah Kau timpakan kami cobaan yang tak sanggup
kami memikulnya.. Janganlah Kau
curahkan kami fitnah yang tak
mampu kami membendungnya..
Allohumma Sholi ala Muhammadin
Wa Aali Muhammad... Ya Robbana Ya Nur Ya Illahi Alamin Mohon
matikan kami dalam Khusnul
Khotimah.. Mohon lapangkan
dada kami.. Mohon mudahkan
Lidah kami dalam melafadzkan
LAA ILLAHHA ILALLAH MUHAMMADDURROSU LULLAH..
Astaghfirullahu robbi Wa Atubu
Illaihi. Astaghfirullahu robbi Wa
Atubu Illaihi. Astaghfirullahu
robbi Wa Atubu Illaihi.
MENGAPA DOA KITATIDAK DIIJABAHI??? by•• Air Mata Taubat••
Setiap kali
berdo'a kita selalu berharap agar
dp'a kita dikabulkan Allah. Tapi
banyak do'a-do'a yang masih
belum dikabulkan Allah. Ingin tahu
Mengapa Allah Jarang Mengabulkan Do'a Kita ?? mari
kita lihat kutipan berikut : Aku
minta pada Allah setangkai bunga
segar, Ia beri aku kaktus
berduri… Aku minta pada Allah
binatang yang mungil dan cantik, Ia beri aku ulat berbulu… Aku
sedih, protes, kecewa, betapa
tidak adilnya ini… Namun
kemudian… Kaktus itu berbunga
indah, bahkan sangat indah Ulat
itu tumbuh berubah menjadi kupu – kupu yang sangat cantik
Kadangkala Allah hilangkan
sekejap matahari, kemudian Dia
datangkan pula guruh dan petir,
puas kita menangis mencari
dimanakah matahari?? Ternyata Allah ingin hadiahkan kita pelangi.
Itulah jalan Allah, indah pada
waktunya. Allah tidak memberi
apa yang kita harapkan, tapi Dia
memberi apa yang kita perlukan
kalo kita meminta ikan paus, Allah kasih samudra dengan ombak
yang besar... kalo kita minta
kekayaan, Allah kasih kemiskinan
yang berat agar kita bisa kaya
lewat usaha sendiri kalo kita
minta jadi orang berhasil, Allah terus kasih Masalah agar kita
bisa berhasil menyelesaikannya
Kadang kita sedih, kecewa,
terluka… Tapi jauh di atas
segalanya, Dia sedang merajut
sesuatu yang terbaik untuk kehidupan kita. Yakin saja sama
Allah... dan berusaha.. jangan
hanya berdo'a saja karena Allah
hanya memberi fasalitas, kita
yang memanfaatkan fasilitas
tersebut dan ketika ada masalah janganlah berkata "Wahai Allah,
Masalahku sangatlah Besar!!" tapi
katakanlah "Wahai Masalah!!! Allah
Itu Maha Besar!!!!" yakin saja sama
Allah karena setiap masalah Insya
Allah dapat diselesaikan jika kita mau bekerja dan syukurilah apa
yang kita punya. Jangan
menunggu bahagia baru
bersyukur, tapi bersyukurlah,
maka kita kan bahagia.
berdo'a kita selalu berharap agar
dp'a kita dikabulkan Allah. Tapi
banyak do'a-do'a yang masih
belum dikabulkan Allah. Ingin tahu
Mengapa Allah Jarang Mengabulkan Do'a Kita ?? mari
kita lihat kutipan berikut : Aku
minta pada Allah setangkai bunga
segar, Ia beri aku kaktus
berduri… Aku minta pada Allah
binatang yang mungil dan cantik, Ia beri aku ulat berbulu… Aku
sedih, protes, kecewa, betapa
tidak adilnya ini… Namun
kemudian… Kaktus itu berbunga
indah, bahkan sangat indah Ulat
itu tumbuh berubah menjadi kupu – kupu yang sangat cantik
Kadangkala Allah hilangkan
sekejap matahari, kemudian Dia
datangkan pula guruh dan petir,
puas kita menangis mencari
dimanakah matahari?? Ternyata Allah ingin hadiahkan kita pelangi.
Itulah jalan Allah, indah pada
waktunya. Allah tidak memberi
apa yang kita harapkan, tapi Dia
memberi apa yang kita perlukan
kalo kita meminta ikan paus, Allah kasih samudra dengan ombak
yang besar... kalo kita minta
kekayaan, Allah kasih kemiskinan
yang berat agar kita bisa kaya
lewat usaha sendiri kalo kita
minta jadi orang berhasil, Allah terus kasih Masalah agar kita
bisa berhasil menyelesaikannya
Kadang kita sedih, kecewa,
terluka… Tapi jauh di atas
segalanya, Dia sedang merajut
sesuatu yang terbaik untuk kehidupan kita. Yakin saja sama
Allah... dan berusaha.. jangan
hanya berdo'a saja karena Allah
hanya memberi fasalitas, kita
yang memanfaatkan fasilitas
tersebut dan ketika ada masalah janganlah berkata "Wahai Allah,
Masalahku sangatlah Besar!!" tapi
katakanlah "Wahai Masalah!!! Allah
Itu Maha Besar!!!!" yakin saja sama
Allah karena setiap masalah Insya
Allah dapat diselesaikan jika kita mau bekerja dan syukurilah apa
yang kita punya. Jangan
menunggu bahagia baru
bersyukur, tapi bersyukurlah,
maka kita kan bahagia.
DALAM SUJUD KU by •• Air Mata Taubat ••
•Dalam sujud
Ya Allah... kuteriakkan Asma-Mu
sekeras-kerasnya agar runtuh
dinding kesombongan dalam
hatiku Dalam sujud Ya Rabbi... ku
menangis sejadi-jadinya biar kering mata ini namun basah
ladang hati yang gersang Dalam
sujud Ya Rahman... kulihat semua
dosa yang membayangiku kelam
mencengkram jiwa yang lusuh
Dalam sujud Ya Rahim... biarkan aku patah dalam cahayaMu
biarkan kumusnahkan titik-titik
kemunafikanku agar ku kembali
dalam pelukan hidayahMu Dalam
sujud biarkan aku hirup nafasku
sekali lagi hanya untuk menyebut namaMu dan kekasihMu tercinta
ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR...
ALLAHU AKBAR...
Ya Allah... kuteriakkan Asma-Mu
sekeras-kerasnya agar runtuh
dinding kesombongan dalam
hatiku Dalam sujud Ya Rabbi... ku
menangis sejadi-jadinya biar kering mata ini namun basah
ladang hati yang gersang Dalam
sujud Ya Rahman... kulihat semua
dosa yang membayangiku kelam
mencengkram jiwa yang lusuh
Dalam sujud Ya Rahim... biarkan aku patah dalam cahayaMu
biarkan kumusnahkan titik-titik
kemunafikanku agar ku kembali
dalam pelukan hidayahMu Dalam
sujud biarkan aku hirup nafasku
sekali lagi hanya untuk menyebut namaMu dan kekasihMu tercinta
ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR...
ALLAHU AKBAR...
Jumat, 05 Agustus 2011
Pasal II
Niat Untuk Belajar (Bag. 2)
Dunia merupakan perkara yang amat sedikit dan paling hina, dapat menjadikan orang menjadi buta terkena sihirnya, sehingga hati orang-orang yang mencintainya menjadi seperti terkena sihir karena merasakan kelezatannya dan menjadikan mereka berpaling untuk memperhatikan dan menerima kebenaran. Mereka menjadi buta tidak dapat melihat kebenaran dan tuli sehingga merasa bingung karena tidak mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Mereka benar-benar seperti buta dan tuli hakiki, maka bagaimana ia dapat pergi dan kembali sedangkan ia tidak tahu kemana ia akan pergi dan kemana ia datang kembali, maka ia menjadi bingung.
Sebaiknya ahli ilmu itu jangan sekali-kali mempunyai perasaan tamak yang tidak semestinya. Kecuali tamak untuk menghasilkan ilmu, maka tamak seperti ini dibolehkan, tidak bahaya bahkan merupakan sasaran kemuliaan. Dan hendaklah menjaga diri dari perkara yang dapat menjadikan hinanya ilmu dan ahlinya dan merendahkan diri, sebab memelihara perbuatan seperti ini merupakan keharusan agar ia tidak tertimpa kehinaan ilmu dan ahlinya. Ahli ilmu hendaknya bersifat tawadlu', karena tawadlu' itu merupakan sifat antara sombong, rendah diri dan iffah. Sedangkan kesombongan termasuk sifat-sifat yang diharamkan, sebab sifat itu merupakan sifat yang khusus bagi Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya dalam Hadits Qudsi :

Artinya :
"Ke-Agungan itu pakaian-Ku dan Kebesaran itu selendang-Ku."
Maksudnya dua sifat yang khusus ada pada Dzat-Ku, yang tidak layak bagi selain-Ku. Iffah artinya menjaga dari keharaman. Tawadlu' merupakan sifat antara sombong dan rendah diri. Sebab seorang yang lemah tidak akan sombong untuk mencari yang halal dan tidak merendahkan dirinya untuk mencari yang haram. Karenanya tawadlu' itu merupakan sifat yang tetap bagi penuntut ilmu. Demikian sebagaimana diterangkan dalam kitab "Akhlak."
As Syekh Al Imam Al Ustadz Ruknul Islam yang terkenal sebagai seorang Ahli Pendidikan membaca sya'ir untuk dirinya :

Artinya :
"Sesungguhnya tawadlu' itu termasuk sifat orang yang bertakwa kepada Allah ; dengan takwa ia dapat meraih derajat yang lebih tinggi."

Artinya :
"Suatu yang sangat mengagumkan adalah orang yang bodoh terhadap dirinya sendiri ; apakah ia akan bahagia atau celaka."
Tawadlu' termasuk sifat-sifat orang yang bertakwa kepada Allah Ta'ala, dengan tawadlu' akan mencapai kedudukan yang tinggi, berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. :

Artinya :
"Siapa bertawadlu' maka Allah mengangkatnya dan siapa sombong maka Allah merendahkannya."
Kata "waminal 'ajaibi" menjadi khabar muqaddam, "ujbun" menjadi mubtada' muakhkhar dan mashdar yang mudlaf pada fa'ilnya yaitu "man huwa jahilu." "Man" maushul dan jumlah sesudahnya adalah shilah. "Fi haalihi" ta'alluq dengan kata "Jahil." 'Ahwa" hamzahnya zaidah kedudukannya sebagai mubtada'. "Assa'iidu" khabamya, 'Amissyaqy" athaf pada "Assa'iid." Maksudnya, termasuk mengagumkan adalah seseorang yang bodoh terhadap dirinya, dia tidak mengerti apakah termasuk seorang yang bahagia dari orang-orang yang bahagia atau celaka dari orang-orang yang celaka. Dengan demikian ia terpedaya dan mengagumi keadaan dirinya, maka yang tepat hendaknya dia berfikir pada keadaan dirinya dan merasa takut dari su-ul khatimah (mengakhiri hayatnya dengan jelek) lalu dalam keadaan takut dan penuh harapan kepada Allah.

Artinya :
"Dia tidak tahu bagaimana mengakhiri umurnya pada hari kematiannya (dengan membawa iman atau kufur) ; lalu dia terperosok serendah-rendahnya atau naik ke tempat tertinggi."
Maksudnya ia tidak tahu dalam mengakhiri umurnya apakah mati membawa iman atau kufur. "Yauman Nawa" artinya hari kehancuran yaitu hari kematian, dimana ruhnya turun di tempat yang serendah-rendahnya atau naik di tempat tertinggi. Jadi dia tak tahu dalam mengakhiri umurnya menghembuskan nyawanya apakah mati membawa iman lalu naik ke tingkat tertinggi, yaitu kedudukan orang-orang mukmin, atau sebaliknya (kita mohon perlindungan Allah Ta'ala) lalu terperosok ke tempat yang paling rendah.

Artinya :
"Adapun kebesaran itu merupakan sifat yang khusus bagi Allah maka hendaknya kamu menjauhi dan memelihara diri dari kesombongan."
Imam Abu Hanifah pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya : "Besarkanlah surbanmu dan longgarilah lengan bajumu." Beliau berkata demikian agar tidak menurunkan martabat ilmu dan ahlinya menjadi remeh dan hina.
Penuntut ilmu sebaiknya menguasai kitab wasiat yang ditulis Imam Abu Hanifah yang diberikan kepada Syekh Yusuf bin Khalid As Simti (dibangsakan pada Samat, beliau seorang ulama Ahli Hadits) ketika beliau pulang ke rumahnya dan keluarganya. Siapa saja berpedoman kitab itu sebagai acuan belajar, niscaya akan sukses.
Guru kami As Syekh Al Imam Ali bin Abu Bakar menyuruhku untuk menulis wasiat tersebut sewaktu kami pulang ke kampung halaman kami. Maka setidaknya bagi Pendidik dan Mufti di saat bergaul dengan masyarakat hendaknya memiliki kitab wasiat karya Imam Abu Hanifah itu.
Bersambung Ke Pasal III.....
Niat Untuk Belajar (Bag. 1)
Pasal menurut bahasa artinya : nyata, bahagian, keputusan, dan memisahkan. Sedangkan menurut istilah adalah bagian dari masalah-masalah yang berubah dari sebelum dan sesudahnya. Pasal tidak dapat diartikan de- ngan bab dan kitab. Dalam pasal ini membahas masalah niat untuk belajar.
Para santri wajib berniat untuk belajar selama mempelajari ilmu. Karena niat merupakan dasar pokok dalam segala hal. Berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. :

"Sesungguhnya amal itu hanyalah dengan niat, dan seorang mendapat pahala sesuai niatnya." (Hadits Shahih).
Maksudnya sahnya amal itu harus disertai dengan niat, menurut madzhab Syafi'i, dan menurut madzhab Abu Hanifah bahwa amal itu ditetapkan memperoleh balasan pahala dengan niatnya. Dan sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda :

Artinya:
"Banyak sekali amal-amal yang ujudnya menyerupai amal dunia tetapi sebenarnya merupakan amal akhirat karena bagusnya niat. Dan tidak sedikit amal yang ujudnya seperti amal akhirat kemudian menjadi amal dunia dengan jeleknya niat."
"Banyak sekali amal-amal yang ujudnya menyerupai amal dunia tetapi sebenarnya merupakan amal akhirat karena bagusnya niat. Dan tidak sedikit amal yang ujudnya seperti amal akhirat kemudian menjadi amal dunia dengan jeleknya niat."
Seperti makan, minum dan tidur, maka bentuknya seperti amal keduniaan tetapi semua itu dapat menjadi amal akhirat karena baiknya niat. Seperti makan dengan niat untuk bertakwa dan agar kuat beribadah, maka akan menjadi amal akhirat. Demikian juga minum, tidur dan lainnya asal diniatkan untuk ketaatan kepada Allah. Dan banyak juga bentuk amal akhirat ternyata menjadi amal dunia karena jeleknya niat. Seperti melakukan amal-amal karena pamer.
Maka sebaiknya penuntut ilmu itu berniat menuntut ilmu semata-mata untuk mencari keridlaan Allah Ta'ala ; untuk memperoleh pahala di akhirat ; menghilangkan kebodohan pada dirinya dan dari seluruh orang bodoh ; untuk menghidupkan agama dan menegakkan agama Islam. Sebab kekalnya Islam itu dengan ilmu, dan ilmu sebagai ruh Islam. Dengan kebodohan maka zuhud dan takwa tidak akan sah.
Syekh Al Imam Burhanuddin pengarang kitab "Al Hidayah" telah melagukan gubahan sya'irnya kepada sebahagian Ulama :

- Kerusakan besarlah jika seorang alim berbuat nekad dalam agama; dan kerusakan yang lebih besar lagi orang bodoh berlagak alim dan khusyu'.
- Keduanya merupakan fitnah yang besar di seluruh alam ; bagi orang yang mengikutinya dalam melakukan agamanya.
Orang nekad adalah orang yang tidak peduli membuka cacatnya dan mengoyak kerahasiaannya. Sedangkan orang alim yang nekad adalah orang yang melakukan perbuatan menentang syara' dari perbuatan-perbuatan jahat dan busuk dimana ia tidak peduli perbuatannya terbongkar. Hal ini merupakan kerusakan besar, karena ia menampakkan pada orang-orang bodoh, sehingga mereka terpengaruh dengan perbuatannya, maka ia tersesat dan menyesatkan mereka.
Kerusakan yang lebih besar lagi adalah orang bodoh berlagak alim dan khusyu'. Maksudnya orang yang beribadah dengan kebodohan karena bertaklid pada orang bodoh baik perbuatan maupun ucapannya, ia tidak mengetahui sah dan rusaknya ibadah yang dilakukannya. Ini lebih besar kerusakannya daripada orang alim yang nekad, karena kerusakannya pada i'tiikad dan amal semuanya, sedangkan orang alim i'tikadnya benar. Sehingga keduanya merupakan fitnah yang besar di seluruh alam bagi orang yang mengikutinya dalam melakukan agamanya baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Dalam menuntut ilmu hendaknya juga berniat mensyukuri nikmat akal dan kesehatan tubuh. Jangalah sekali-kali kamu berniat dalam menuntut ilmu itu untuk memperoleh harta keduniaan, jangan pula berniat untuk mendapat perhatian para manusia dan dimuliakan di sisi seorang raja atau penguasa serta karena arah yang lain. Ringkasnya jangan sekali-kali berniat selain untuk mencari keridlaan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.
Untuk menguatkan, bahwa penuntut ilmu tidak baik berniat untuk mendapat perhatian para manusia, maka Syekh Muhammad Al Hasan Rahimahullah berkata : "Andaikata seluruh manusia menjadi budakku, niscaya mereka saya merdekakan semuanya dan saya bebaskan dari tanggungan. Sehingga saya dapat terlepas dari hak dan perhatian manusia." Siapa yang dapat memelihara dan merasakan manisnya ilmu dan amal, niscaya tidak senang menarik perhatian para manusia. Sebab jika ia telah merasakan manisnya ilmu, niscaya ia tidak senang pada yang lain, karena ilmu akan dirasakan lebih mulia dan lezat baginya dari segala perkara yang lain, sehingga ia tidak akan mencari yang lain kecuali ilmu.
Syekh Al Imam Al Ustadz Qawwamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail As Shaffari Al Anshari telah membacakan sya'ir kepadaku yang telah ditulis Imam Abu Hanifah :

Artinya :
- Siapa menuntut ilmu karena mencari pahala akhirat ; maka berbahagialah ia dengan karunia dari Allah.
- Maka alangkah ruginya bagi penuntut ilmu ; untuk memperoleh kelebihan dari sesama manusia.
Orang yang menuntut ilmu semata-mata untuk mencari pahala di akhirat, maka ia akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan dari Tuhan Pemberi petunjuk. Hal ini merupakan keutamaan dan kemuliaan yang dapat menyampaikan pada derajat yang tinggi di syurga.
"Faya Likhusraaani Thaalibihi = Maka alangkah ruginya bagi penuntut ilmu" sebagai jawab syarat yang terbuang. "Ya" adalah huruf nida', dan munadanya terbuang. Sedangkan "Al Khusraan" digantungkan dengan fi'il yang terbuang, yakni : "Jika penuntut ilmu karena mencari pahala akhirat, maka menjadikan sebab memperoleh kebahagiaan dengan petunjuk Allah. Maka perhatikanlah hai manusia kerugian menuntut ilmu untuk memperoleh kelebihan dari sesama manusia.
Ya Allah, jauhkanlah saya dari segala kerugian. Kecuali jika upaya mendekati penguasa dan mencari pengaruh itu bertujuan untuk menguatkan amar makruf nahi munkar dan memperjuangkan serta menegakkan kebenaran dan memuliakan agama, tidak menuruti hawa nafsunya. Maka yang demikian diperbolehkan sekedar melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Jadi sekalipun nampaknya mencari pengaruh dan perhatian manusia tetapi hakikatnya untuk menegakkan amar makruf dan nahi munkar yang kedua-duanya merupakan semulia-mulia peribadatan.
Penuntut ilmu sebaiknya mau berpikir dalam belajar, kesulitan apa yang dihadapi dan kepayahan apa yang dihasilkan. Sebab ia telah menekuni, mempelajari ilmu dengan penuh kesungguhan, banyak mengalami kepayahan dan kedukaan. Maka setelah sukses jangan sampai semata-mata untuk memburu keduniaan yang begitu hina, sedikit dan cepat sirna. Sebagaimana disebutkan dalam sya'ir :

Artinya :
- Dunia adalah sedikit perkara yang sedikit ; dan orang yang sangat mencintainya adalah sehina-hina suatu yang hina.
- Karena sihirnya, tidak sedikit orang-orang yang menjadi buta dan tuli ; maka keadaan mereka merasa bingung karena tidak mendapat petunjuk ke jalan yang benar.
Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 3) Jadi Nabi adalah manusia yang paling alim meliputi ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian. Maka bagaimana anda merasa cukup wahai para pelajar dan santri dengan ilmu yang telah anda peroleh ? Padahal ilmu anda itu dibandingkan dengan ilmunya ibarat setetes air laut. Artinya : "”Belajarlah Ilmu Fiqih, karena Fiqih itu merupakan penuntun yang paling utama ; untuk berbuat kebaikan, takwa dan tujuan yang lurus." Kata 'Tafaqqah" itu fi'il amar (kata kerja perintah) dari wazan "Tafa'al", artinya : "Jadilah kamu orang berusaha menghasilkan Ilmu Fiqih. Sebab ia penuntun dan alasan yang paling utama." Untuk berbuat kebaikan, takwa dan tujuan yang lurus, maksudnya bahwa Ilmu Fiqih itu bertujuan adil dan jenis keadilan yang paling adil. Sebab Fiqih merupakan ilmu yang menjelaskan aturan-aturan syariat dan hukum-hukum yang secara pasti pada keduanya tidak mengandung kesesatan, sebab is berupa hukum-hukum Allah secara pasti, Maha Suci Allah dari kesesatan dan kelemahan sifat bagiNya, sedangkan Allah Ta'ala Maha Suci dari sifat lemah dan kekurangan. Artinya : "Ia merupakan rambu-rambu kepada jalan petunjuk ; dialah sebagai benteng yang dapat menyelamatkan dari segala marabahaya." "Sanan" dibaca "fathah" artinya "Jalan", sedangkan "Al Hudaa" dengan makna "Hidayah" artinya "Petunjuk" yaitu sarana yang dapat menyampaikan seseorang memperoleh Ilmu Fiqih, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia ke jalan memperoleh keberuntungan dengan kehidupan abadi dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan ampunan Allah Yang Maha Halus. Fiqih juga merupakan benteng yang dapat menyelamatkan orang yang mencarinya dan mempelajarinya dari segala marabahaya, seperti kebodohan terhadap perintah-perintah Allah Ta'ala dan larangan-larangan-Nya. Sebab bodoh terhadap perintah dan larangan Allah termasuk sebesar-besar marabahaya yang tidak Samar lagi. Artinya: "Karena sesungguhnya Pakar Fiqih yang perwira lebih berat bagi syetan (untuk mengganggu) daripada seribu orang ahli ibadah (yang tidak alim fiqih). " Perwira maksudnya memelihara diri dari segala yang haram secara sempurna dalam menjauhinya. Sehingga syetan-syetan lebih berat menggodanya daripada seribu orang ahli ibadah yang tidak alim fiqih. Sebab seorang Faqih itu musuh syetan, dimana syetan selalu menyuruh para manusia berbuat fasik dan kekufuran, sedangkan seorang Faqih selalu mengajak para manusia untuk beriman dan melakukan ketaatan, dan mengajak mereka dari jalan syetan ke jalan Tuhan. Keadaan seperti ini tidak dapat dihasilkan oleh seorang ahli ibadah jika dia tidak alim bahkan dalam beribadah kepada Allah tanpa pengetahuan. Demikian pula setiap muslim wajib mengetahui budi pekerti terpuji dan tercela. Seperti pemurah, kikir, penakut, pemberani, sombong, tawadlu', iffah (memelihara dari keharaman), boros dan menghemat dalam belanja serta yang lainnya. Sebab sombong, kikir, penakut dan boros itu haram. Sehingga tidak dapat memelihara diri daripadanya melainkan harus mengetahui ilmunya dan ilmu yang berlawanan padanya. Karenanya maka setiap manusia wajib mengetahui sifat dan akhlak itu. As Sayid Al Imam As Syahid Nashiruddin Abul Qasim telah mengarang sebuah karya terbaik, yaitu sebuah kitab tentang "Ilmu Akhlak". Maka setiap muslim wajib memelihara akhlak dan mempelajarinya. Adapun menjaga sesuatu yang akan terjadi secara temporer pada waktu-waktu tertentu seperti shalat jenazah, menjenguk orang sakit dan sejenisnya maka hukumnya "Fardlu Kifayah". Jika sebagian penduduk sudah ada yang mengerjakan, maka seluruh penduduk yang lain sudah dianggap cukup dan gugur kewajibannya. Dan inilah pengertian Fardlu Kifayah. Tetapi jika sama sekali tidak ada seorang yang mengerjakannya, maka berdosalah seluruh penduduk itu. Maka seorang Imam atau Penguasa wajib memerintahkan penduduk untuk mengerjakan fardlu kifayah. Karena ilmu yang terjadi pada dirinya sendiri dalam segala hal, adalah ibarat makanan yang diperlukan setiap orang. Dan inilah perumpamaan "Fardlu 'Ain" dimana setiap pribadi wajib melakukannya, ibarat makanan yang harus dimakan setiap individu. Sedangkan ilmu yang kemungkinan terjadi pada suatu saat adalah ibarat obat, dimana sewaktu ia sakit tentu membutuhkannya. Adapun Ilmu Nujum (Astrologi) adalah ibarat penyakit. Maka belajar Astrologi jika tujuannya untuk mencari keselamatan dari qadla dan qodar Allah hukumnya adalah haram. Sebab ia tidak memberikan manfa'at bahkan membahayakan. Padahal menghindar dari qadla dan qadar Allah tidaklah mungkin. Dan selama mempelajarinya berarti merupakan perbuatan sia-sia, tidak berguna, sebagai puncak kendala waktu dan menyia-nyiakan umur. Hal ini jelas berbahaya. Maka setiap muslim hendaknya mengisi seluruh waktunya untuk herdzikir kepada Allah Ta'ala, berdo'a, bertadlarru', membaca Al Qur'an, dan bersedekah sebagai penolak bahaya serta memohon kesehatan dan ampunan kepada Allah Ta'ala di dunia dan akhirat, agar Allah Ta'ala tetap menjaganya dari bencana dan marabahaya serta terlepas dari kejahatan. Bersedekah itu dapat menolak bencana, ini berdasarkan sabda Nabi s.a.w. : Artinya : "Sedekah itu dapat menolak bencana dan menambah umur." Bahwasanya orang yang dikarunia do'a yaitu ia selalu berdo'a, niscaya akan dikabulkan. Jika ada bencana atau bahaya yang pasti akan menimpanya, berkat do'a itu maka Allah akan meringankannya pada seorang hamba yang berdo'a itu dan mengaruniakan kesabaran kepadanya. Ya Allah, jauhkanlah aku dari ilmu nujum (perbintangan). Pada prinsipnya mempelajari ilmu nujum itu haram, kecuali jika dalam mempelajari sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat, maka hal itu diperbolehkan. Maksudnya kita diperbolehkan mempelajari ilmu nujum sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat fardlu, sebab hal ini sebagai perantara mengetahui seluk-beluk urusan agama. Adapun mempelajari Ilmu Kedokteran untuk mengetahui kondisi fisik dalam keadaan sehat atau sakit maka diperbolehkan. Sebab ia merupakan salah satu sebab untuk mengetahui berbagai macam sebab, menditeksi kondisi badan sehat atau sakit dan pengobatannya. Diperbolehkannya mempelajari Ilmu Kedokteran seperti halnya diperbolehkannya mengetahui obat-obatan. Hal ini karena Nabi s.a.w. pernah berobat bahkan menganjurkannya. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi'i Rahimahullahu Ta'ala pernah berkata : "Ilmu itu ada dua, yaitu Ilmu Fiqih untuk mengetahui peraturan agama dan Ilmu Kedokteran untuk mengetahui kondisi tubuh. Sedangkan selain keduanya ibarat hidangan dalam resepsi." Ilmu adalah merupakan sarana yang dapat menjadikan jelasnya pengertian bagi pemiliknya. Adapun Fiqih adalah mengetahui suatu ilmu secara detail. Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta'ala berkata : "Fiqih adalah mengetahui kebaikan dan kejelekan yang bermanfa'at dan yang membahayakan diri." Beliau juga mengatakan : "Tujuan ilmu itu untuk diamalkan, dan mengamalkan ilmu adalah meninggalkan kesibukan mengurus keduniaan untuk mencari kebahagiaan akhirat yaitu kedudukan di syurga dan seisinya. Hal ini tidak dapat dihasilkan tanpa ilmu, sebab keduanya berlawanan antara dunia dan akhirat, dunia itu fana', sedangkan akhirat kekal abadi. Maka hendaknya anda tinggalkan yang fana' untuk mencari yang baka' (kekal). Maka sebaliknya manusia itu jangan sampai melalaikan dirinya. la harus mengetahui perkara yang memberikan manfa'at dan yang membahayakan dirinya, baik di dunia dan di akhiratnya. Seseorang juga harus mengenali dirinya bersifat lemah, fakir, dan rusak. Kami tafsirkan demikian karena ia lemah akalnya untuk mengetahui hakikat dirinya. Dikatakan, bahwa mengetahui dirinya adalah mengetahui sifatnya. Kenyataan pembahasan ini berdasarkan sabda Nabi s.a.w. : Artinya: "Siapa mengetahui dirinya maka ia benar-benar mengetahui Tuhannya.” Hal-hal yang bermanfa'at bagi manusia adalah melakukan peribadatan dan ketaatan, sedangkan yang membahayakannya seperti berbuat keji, kemaksiatan dan kemungkaran. Hal-hal yang bermanfa'at dapat membawa pahala dan kebaikan, sedangkan yang membahayakan itu membawa dosa dan kejahatan. Maka ambillah perkara yang bermanfa'at dan jauhilah perkara yang membahayakan, agar rasio dan ilmunya tidak menjadi argumentasi padanya, lalu dapat menambah siksaan. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Banyak ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits shahih dan masyhur yang mengemukakan tentang sejarah kemegahan Ilmu Pengetahuan dan ke, utamaannya. Di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan Sahabat Abu Darda', bahwasanya is berkata : Rasulullah sa.w. bersabda : Artinya : "Siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi sehingga (sebanyak) ikan-ikan di dalam air. Kelebihan seorang alim alas orang ibadah bagaikan kelebihan sinar bulan alas seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu agama. Maka siapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bahagian yang besar." (HR. Imam Abu Dawud
Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 2)//www.mypesantren.com
Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 2) Dengan bertakwa maka seseorang berhak memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi. Kebahagiaan abadi merupakan sifat kemuliaan. Ilmu menjadi perantara untuk bertakwa, karena ketakwaan itu dapat terealisir hanyalah dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat memelihara diri dari larangan Allah Ta'ala, maka mungkinkah tanpa pengetahuan ia dapat memelihara diri daripadanya ? Dan jika takwa itu dapat berhasil dari menjauhi larangan Allah Ta'ala, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di negeri yang abadi mencapai tingkatan tertinggi dan puncak kenikmatan di Syurga berjumpa Allah, Tuhan Pemberi segala kenikmatan lagi Merajai. Semoga Allah memudahkannya lantaran memuliakan Nabi-Nye yang diutus di akhir zaman. Artinya: "Belajarlah, karena ilmu itu sebagai hiasan bagi ahlinya, merupakan kelebihan dan tanda dari segala perbuatan terpuji." Kata "Belajarlah" maksudnya perintah untuk belajar. Kata "Hiasan bagi ahlinya" maksudnya merupakan hiasan bagi orang yang berilmu. Dalam, interpretasi, bahwa perkara yang paling utama setelah tauhid hendaknya seseorang mempelajari Ilmu Fiqih. Karena Allah Ta'ala memperlihatkan para malaikat dengan melebihkan Adam as. dengan Ilmu Fiqih. Maka Allah berfirman : "Dan Dia mengajarkan Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat." Allah mengajarkan Bahasa Arab termasuk ilmu terpenting dari berbagai ilmu, karena segala persoalan pokok dan cabang-cabangnya membutuhkannya. Hal ini telah ma'tsur dari Umar dan Ali r.a. Diceritakan, bahwasanya seorang Arab mendengar seorang lelaki membaca firman Allah Ta'ala : Artinya : "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. " (QS. 9 At Taubah : 3). Rasuluh dibaca kasrah "Wa Rasuulih" sehingga memberi pengertian bahwa "Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan Rasul-Nya", maka ia berkata : Jika Allah berlepas diri dari Rasul-Nya, maka saya juga berlepas diri daripadanya. Lalu lelaki itu pergi kepada Umar r.a. dan orang Arab Badui itu menceritakan bacaannya. Maka dihadapan Umar r.a. memerintahkannya untuk mempelajari bahasa Arab, dan Ali r.a. mengatakan : "Fa'il itu Rafa', Maf’ul itu Nashab, dan Mudhaf Ilaih itu dibaca Jer " Adapun belajar menulis dan mempelajari tulisan halus dan indah adalah lah diperbolehkan. Sebab Allah Ta'ala membidangkan hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya: Artinya : "Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. " (QS. 68 Al Qalam : 1). Dan firman Allah Ta'ala: Artinya : "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca).” (QS. 96 Al Alaq : 4). Menulis halus dan indah itu dimakruhkan mempelajarinya bagi kaum wanita, berdasarkan sabda Nabi s.a.w. : Artinya : “janganlah kamu mengajarkan tulisan halus kepada para wanita." Sementara Ulama berkata : "Ketahuilah, bahwa tulisan halus dan indah itu adalah gaya kesopanan dan sebagian daripada ilmu." Sebagian para Ahli Tafsir berkata tentang firman Allah Ta'ala. Yang dimaksud adalah tulisan halus dan indah. Fudhail bin Suhail berkata : "Termasuk kebahagiaan seseorang jika ia memiliki tulisan indah dan terampil bicara”. Penya'ir mengatakan: Artinya : Pelajarilah pedoman menulis halus dam indah wahai orang yang berpendidikan ; karena tulisan indah itu merupakan hiasan bagi pendidik. Jika engkau punya harta, maka tulisan indahmu merupakan hiasan; dan jika engkau membutuhkan uang maka itu sebaik-baik penghasilan. Artinya : ”Jadilah kamu seorang yang memperoleh faidah menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah kamu dalam lautan faidah." Kata "Mustafidan" sebagai khabar "Kun", dan "Kulla Yaumin" menjadi dlaraf sedangkan "Ziyadatan" menjadi maf'ul bihi dari kata "Mustafidan." Sedangkan kata "Wasbah" adalah fi'il amar yang athaf pada "Kun" yaitu perintah berenang, yakni berangkat di permukaan air. Adapun "Fi Buhuril Fawa-idi = dalam lautan faidah" maksudnya dalam mencari faidah seperti mencari mutiara di lautan. Artinya hendaknya kamu selalu mencari tambahnya faidah ilmu pengetahuan setiap hari dan berenanglah seperti ikan berenang di laut merah dalam mencari faidah. Sebab Nabi yang paling utama yaitu Muhammad s.a.w. dalam do'anya beliau membaca : "Ya Tuhanku, tarnbahkanlah ilmu padaku." Hal ini karena Allah Ta'ala memerintahkannya dalam firman-Nya: Artinya : "Dan katakanlah : "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. 20 Thalia : 114).
Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 1)/www.mypesantren.com
Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 1)
Pasal I : Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya (Bag. 1)
Keduanya, yakni Ilmu dan Fiqih mempunyai keutamaan. Pengarang mendahulukan hakikat ilmu lalu menjelaskan keutamaannya untuk mengingatkan tujuan kitab ini. Yang pertama menjelaskan keutamaan Ilmu dan Fiqih, untuk mendorong para penuntut ilmu agar tekun mempelajarinya. Kedua, menerangkan hakikat keduanya agar ia tidak tetap mencari kebodohan. Rasulullah s.a.w. bersabda :
طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
Artinya :
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat."
Memulai dengan hadits syarif karena mengharapkan keberkahan. Maksudnya bahwa menuntut ilmu itu hukumnya fardlu 'ain bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yang mukalaf. Seperti ilmu yang membebankan untuk menerangkan makrifat kepada Allah Ta'ala dengan meng-Esakan-Nya dan mengetahui sifat-Nya serta membenarkan adanya Rasul. Sebab hal ini tidak boleh bertaklid, berdasarkan firman Allah Ta'ala :

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah." (QS. 47 Muhammad : 19).
Dan firman-Nya:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar."
(QS. 41 Fushshilat : 53).
Setiap muslim yang baligh baik fakir maupun kaya juga diwajibkan mempelajari ilmu shalat dan bersuci sebagaimana diwajibkannya mempelajari ilmu zakat dan haji. Adapun sampai pada tingkat ijtihad dan fatwa maka hukumnya fardlu kifayah. Jika salah seorang dari ahli negaranya telah melaksanakannya, maka sudah cukup dan gugurlah yang lainnya dan mereka boleh bertaklid (mengikuti), dan jika mereka diam semuanya maka, mereka berdosa semua. Demikian sebagaimana dalam syarah Mashabih.
Dari pengertian ini maka berkatalah pengarang kitab : "Ketahuilah, bahwasanya setiap muslim dan muslimat tidaklah diwajibkan mempelajari ilmu. Tetapi ia diwajibkan mempelajari ilmu yang akan dilakukan, yaitu Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Fiqih, yang ada hubungannya dengan ihwal manusia. Seperti kufur, iman, shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Sebagaimana dikatakan sebagian Ulama :

Artinya :
'Ilmu yang lebih utama adalah ilmu yang akan diamalkan, dan amal yang lebih utama adalah memelihara perbuatan (dari sia-sia dan kerusakan)."
Setiap muslim diwajibkan mempelajari ilmu yang akan ia alami dalam shalatnya seperu kerusakan dan kemaslahatan, atau yang akan menimpa dirinya seperti sakit, sehat, bepergian dan di rumah yang ada hubungannya dengan cara melaksanakan kewajiban shalatnya. Karena orang Islam diwajibkan shalat, maka ia diwajibkan mengetahui ilmu yang berhubungan dengan shalat, agar shalatnya dapat sempurna dan sah. Seperti mengetahui rata cara melakukan shalat dan syarat rukunnya.
Di samping itu, hendaknya memelihara bacaan-bacaannya dengan benar, baik berupa ayat-ayat yang panjang maupun tiga ayat pendek yang difardlukan. Sebab jika bacaannya salah menjadikan shalatnya tidak sah. Dengan demikian ia dianggap belum memenuhi kewajibannya. Maka dari itu, karena orang Islam diwajibkan melakukan shalat, maka setiap muslim wajib mengetahui ilmunya. Perantara melakukan ibadah fardlu adalah wajib dilakukan, seperti melakukan wudlu untuk shalat. Maka melakukan perantara untuk memenuhi kewajiban hukumnya wajib. Demikian pula untuk mengetahui kefardluan dan kewajiban adalah wajib. Begitu pula wajibnya mengetahui masalah puasa dan zakat jika ia telah memiliki harta sebagai syarat untuk zakat, kemudian kewajiban haji bila telah memenuhi syarat, dan wajib mempelajari ilmu muamalat tentang jual beli jika ia sebagai pedagang atau pengusaha. Maksudnya setiap muslim wajib mempelajari hal-hal yang akan tetiadi dalam transaksi jual beli, agar ia terhindar dari riba, syubhat, kekeliruan dan kerusakan.
Diriwayatkan, bahwa Syekh Muhammad bin Hasan rahimahullah, suatu ketika menerima kunjungan seorang murid yang mengajukan permohonan agar beliau mengarang kitab tentang "Zuhud". Jawab beliau : "Aku telah mengarang kitab tentang jual beli, yang isinya mengatur sah dan rusaknya jual beli." Maksudnya, yang dinamakan Zuhud adalah seorang yang menjaga diri dari perkara yang boleh melakukannya tetapi dibenci. Zuhud adalah meninggalkan keinginan hawa nafsunya, dan ini dapat terwujud dalam memelihara perkara-perkara syubhat. Maka tidak mustahil jika kitab Zuhud dikategorikan kitab jual beli.
Demikian pula bagi setiap muslim diwajibkan mempelajari ilmu bermasyarakat, dan teori-teori dalam bekerja agar dapat terpelihara dari larangan agama. Sebab siapa yang akan melakukan suatu pekerjaan, maka ia diwajibkan mengetahui ilmunya dan memelihara diri dari larangan agama.
Setiap muslim juga diwajibkan mengetahui ihwal hatinya untuk bertawakkal, kembali dan takut kepada Allah serta rela akan hukum-hukumNya dan ketetapan-Nya. Karena hal itu akan terjadi dalam segala keadaan, tidak terbatas pada keadaan tertentu saja. Maka ia wajib mengetahui ilmunya, karena akan menyangkut setiap pribadi muslim. Tanpa demikian maka hukumnya fardlu kifayah, yaitu jika salah seorang sudah ada yang melakukannya maka yang lain menjadi gugur semua.
Adapun kemuliaan ilmu siapapun tidak akan menyangsikannya. Sebab ia merupakan sifat pemberian Allah yang diberikan khusus bagi umat manusia. Karena sifat-sifat selain ilmu, baik manusia maupun seluruh binatang juga sama memiliki. Seperti sifat pemberani, kuat, sosial, giat dan sebagainya.
Dengan ilmu, Allah menampakkan ketinggian derajat Nabi Adam a.s. melebihi derajat para malaikat, sehingga para malaikat diperintahkan bersujud menghormati kepada Adam. Malaikat merupakan lafadh jamak dari "Malakun." Mereka sebagai perantara antara Allah dengan para Rasul-Nya. Terdapat perbedaan pendapat tentang hakikat mereka. Para Mutakallimin berpendapat, bahwa malaikat adalah jisim yang halus (makhluknon fisik) yang dapat membentuk rupa dengan berbagai macam bentuk. Ini menunjukkan bahwa para Rasul dapat melihat mereka. Mereka mempunyai kekuatan dalam melaksanakan tugasnya, sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla mensifati mereka dalam firman-Nya :

Artinya :
"Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya
(QS. 21 Al Anbiya' : 20).
Mereka pada tingkatan yang tinggi lagi dekat-dekat, mengatur urusan dari langit ke bumi, sesuai berlakunya pada mereka kalam qadla dan qadar. Mereka mengatur urusan dunia. Mereka ada yang di langit dan ada yang turun di bumi karena banyaknya. Adam lebih utama dari para malaikat tersebut dalam tafsir firman Allah Ta'ala :

Artinya:
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para malaikat (QS. 2 Al Bagarah : 31).
Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Sujud menurut bahasa artinya merendahkan diri. Dan menurut istilah syara', adalah meletakkan dahi pada bumi dengan maksud beribadah. Adapun Para malaikat disuruh bersujud kepada Adam as. maksudnya untuk menghormat dan memuliakan karena mengagungkan kepadanya dan menunaikan hak belajar.
Sesungguhnya hanya dengan kemuliaan ilmulah menjadi perantara untuk bertakwa, yang menurut urf syara' adalah sempurnanya memelihara diri dari sesuatu yang membahayakan di akhirat. Menurut Umar bin Abdul Aziz bahwa takwa adalah meninggalkan segala yang diharamkan (dilarang) oleh Allah Ta'ala dan melaksanakan apa yang diwajibkan. Menurut sebagian Ulama, bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang meninggalkan segala Yang tidak ada kebaikannya karena merasa takut dari terjerumus padanya. Sementara Ulama menjelaskan, dari takwa itu terdapat lima balasan, tidak akan memperolehnya orang yang tidak melepaskannya, yaitu :
Merasa kesulitan atas kenikmatan, merasa lemah atas kekuatan, merasa hina atas kemuliaan, merasa payah atas kesenggangan, dan merasa mati atas kehidupan.
Dalam kenyataan takwa itu ada tiga tingkatan :
- Takwa dalam memelihara diri dan siksaan yang dikekalkan atas kekufuran. Dimana Allah akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih. Sedangkan Allah menurunkan ketenangan kepada orang-orang mukmin dan mewajibkan mereka kalimat takwa. Sebagaimana firman-Nya:

Artinya :
"Dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya " (QS. 48 Al Fath : 26).
2. Menjauhi segala perbuatan dosa, baik untuk memperbuat atau meninggalkan termasuk dosa-dosa kecil bagi suatu kaum. Hal ini yang dikenal sebagai taqwa menurut syara', sebagaimana firman Allah Ta'ala :

Artinya :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. 7 Al A’raf : 96).
3. Memaha Sucikan Allah dalam setiap gerak-gerik dan perbuatan dari rahasia kebenaran Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, dan beribadat kepada-Nya dengan penuh ketekunan. Inilah takwa hakiki yang diperintahkan Tuhan

Artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya ; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. 3 Ali Imran : 102).
Langganan:
Postingan (Atom)